5 Trader dengan Kerugian Terbesar dari Crypto

Naufal Muhammad

3rd May, 2022

Trading crypto sering kali dipasarkan sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat dan mudah. 

Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang salah dan sayangnya banyak trader awam yang terlalu tergiur dengan keuntungan yang diiklankan oleh trader handal atau individu yang mengaku sebagai trader namun penipu. 

Dalam trading crypto, layaknya jual beli aset lainnya, terdapat potensi keuntungan dan kerugian yang tinggi, jadi akan ada kemungkinan untuk seorang trader untuk rugi. 

Jika trading crypto tidak disandingkan dengan ilmu dan ekosistem yang baik, maka kemungkinan besar kerugian besar akan terjadi. 

Contohnya adalah trader bernama “Satto” yang viral saat trading di youtube yang kehilangan Rp140 Miliar dalam hitungan detik. Di luar itu, banyak trader yang juga merasakan kerugian akibat kekurangan dari dirinya sendiri atau eksternal. 

Artikel ini akan memberikan contoh lima trader yang mengalami kerugian besar akibat kurangnya ilmu, pengalaman, dan ekosistem yang tidak mendukung. 

Rugi Rp27,3 Miliar dalam 20 Menit 

Pertama adalah seorang trader yang berasal dari Skotlandia yang terlibat kasus akibat trading dengan menggunakan uang orang lain. 

Trader yang diberi nama samaran dengan Jack ini dikabarkan kehilangan sekitar Rp27,3 Miliar hanya dalam 20 menit setelah mencoba untuk trading dengan crypto. 

Ia dikabarkan menggunakan uang perusahaannya dimana ia memiliki akses terhadap uang tersebut karena ia bekerja di bidang keuangan. 

Awalnya ia mencoba trading di crypto di aset spot yaitu Bitcoin, dan mendapatkan keuntungan namun belum memiliki pengalaman yang tinggi karena baru saja belajar. 

Ia juga berhasil mengembalikan kerugiannya hanya dalam satu trade atau posisi yang membuatnya percaya diri berlebihan. 

Setelah percaya dirinya naik, ia mulai mengambil uang perusahaannya dan berharap hal yang sama akan terjadi dengan satu kesuksesannya itu. 

5 Trader dengan Kerugian Terbesar dari Crypto
“Trading Bukan Judi”

Hasilnya ia mengalami kerugian dimana ia kehilangan Rp27,3 Miliar hanya dalam 20 Menit dan berakhir dengan utang besar kepada perusahaannya yang perusahaannya sendiri belum ketahui. 

Saat ini ia telah berhasil mengembalikan uang tersebut namun ia masih dalam tahap rehabilitas karena mengalami gangguan psikologis yang juga membuat namanya masih dirahasiakan. 

Dari kasus ini dapat diambil pelajaran bahwa trading harus memiliki uang yang rela untuk hilang atau bukan uang penting karena selalu ada potensi kerugian. 

Rugi 10,75 Triliun dalam 4 Jam 

Kedua adalah seorang trader yang merupakan salah satu whale terbesar di dunia Bitcoin dimana ia melakukan trading melalui pasar spot. 

Ia merupakan salah satu whale terbesar dengan kepemilikan sebanyak 288 Ribu Bitcoin dan beberapa crypto lainnya. 

Kerugian yang ia alami adalah sebesar Rp10,75 Triliun hanya dalam 4 Jam setelah mayoritas aset crypto mengalami penurunan harga dan ia menjual kerugiannya untuk menjaga manajemen risikonya. 

Ia mengalami kerugian ini setelah membuka posisi trade di beberapa crypto yang membuat kerugiannya terjadi secara akumulatif. Tercatat bahwa ia membuka posisi di BTC, XRP, ETH, dan beberapa crypto lainnya. 

5 Trader dengan Kerugian Terbesar dari Crypto
BTC, ETH, dan XRP

Koreksi tersebut dipimpin oleh Bitcoin yang turun sekitar 16% kurang dari satu hari. Ia merasakan kerugiannya di tengah malam hingga dini hari dalam kurun waktu 4 Jam. 

Hasilnya ia kehilangan Rp10,75 Triliun, namun melihat portofolionya, ia tidak mengalami gangguan psikologis apa pun karena masih memiliki banyak di portofolio  investasinya. 

Semua ini terjadi pada Hari Jumat hingga Sabtu dini hari. Untuk trader berpengalaman, Jumat menuju Sabtu adalah waktu yang memiliki volatilitas tinggi, sehingga sangat wajar koreksi ini terjadi. 

Kerugian ini mengajarkan bahwa walau manajemen risiko sudah dijaga, seorang trader juga dapat mengalami kerugian besar terutama jika membuka beberapa posisi di waktu bersamaan. 

Manajemen risiko jika tidak disandingkan dengan manajemen jumlah posisi yang dibuka juga dapat membawa kerugian besar. 

Rugi Rp159,3 Miliar dalam 6 Jam

Trader ketiga adalah seorang individu yang kehilangan Rp159,3 Miliar dalam waktu 6 Jam setelah trading di pasar futures. 

Ia mengalami kerugian setelah mayoritas aset crypto mengalami apresiasi dan aset crypto yang mendasari kontrak futuresnya bergerak naik saat ia membuka posisi short. 

Saat membuka posisi short, seorang trader akan memprediksi harga suatu aset crypto untuk turun agar ia mendapatkan keuntungan di pasar futures. 

Trader ini mengalami kerugian karena membuka posisi futures short di kontrak futures perpetual THETA dan harganya mengalami apresiasi hingga 18% dalam 24 Jam. 

5 Trader dengan Kerugian Terbesar dari Crypto
Theta Network

Kondisi kerugian ini juga terjadi di tengah malam menuju dini hari dimana dalam 6 Jam pertama kerugian tersebut terjadi. 

Sayangnya pada saat itu trader ini tidak menggunakan order otomatis untuk menutup kerugian atau yang biasa dinamakan stop loss. 

Sehingga kerugiannya terus berjalan di luar manajemen risikonya dan membuatnya rugi hingga Rp159,3 Miliar, menghabiskan portofolionya atau membuat yang dinamakan margin call.

Dari kerugian ini dapat dipelajari bahwa untuk melakukan trading yang sukses, seorang trader harus disiplin menggunakan stop loss terutama di masa volatilitas tinggi. Tujuannya adalah agar dana yang digunakan dapat bertahan dalam jangka panjang sesuai manajemen risiko. 

Rugi Rp36,2 Triliun dalam 24 Jam 

Selanjutnya adalah trader Bitcoin yang juga melakukan tradingnya di pasar spot. Ia dikabarkan kehilangan dananya akibat adanya volatilitas pasar dari faktor makroekonomi

Pada saat itu, terdapat beberapa sentimen negatif yang membuat mayoritas crypto terutama Bitcoin turun secara signifikan hampir 20% dalam sehari. 

5 Trader dengan Kerugian Terbesar dari Crypto
Bitcoin Koreksi

Sentimen tersebut adalah invasi dari Rusia kepada Ukraina yang juga melibatkan Amerika, kekacauan di Kanada, dan suku bunga acuan yang mulai naik dari Bank Sentral Amerika. 

Setelah beberapa kabar tersebut dipublikasi harga mayoritas crypto mengalami koreksi yang signifikan, dan sayangnya trader ini sedang tertidur. 

Melihat transaksinya yang terjadi di aset spot, trader ini tidak menggunakan order otomatis stop loss sehingga kerugiannya terus berjalan. 

Hasilnya dalam 24 Jam ia baru menyadari dan berakhir kehilangan hingga Rp36,2 Triliun hanya dari satu transaksi Bitcoin. 

Dari kasus ini dapat dipelajari bahwa faktor makroekonomi adalah salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena saat ini crypto sudah masuk ke kategori aset keuangan umum yang dapat dipengaruhi juga oleh faktor makroekonomi layaknya aset lain. 

Rugi Rp289,7 Triliun dalam 48 Jam

Terakhir adalah salah satu kasus terbesar di dunia crypto yang terjadi oleh satu trader bernama Bill Hwang yang terkenal di dunia crypto. 

5 Trader dengan Kerugian Terbesar dari Crypto
Bill Hwang

Bill Hwang adalah salah satu trader yang tergolong hebat karena sejarahnya sejak 2013 yang telah berkecimpung di dunia crypto dan mendapat keuntungan tinggi. 

Ia mendapatkan keuntungan hingga ratusan bahkan ribuan persen dari Tahun 2013 hingga Tahun 2020, namun kejayaannya berakhir di Tahun 2021. 

Setelah mengalami ketenaran, ia mulai dipercaya oleh banyak perusahaan dan mulai mengelola dana dari beberapa perusahaan. 

Kasus yang terjadi adalah kerugian terhadap perusahaannya sendiri yang ia bangun bernama Archegos yang merupakan perusahaan pengelola dana secara legal. 

Ia mengalami kerugian hingga Rp289,7 Triliun hanya dalam 48 Jam atau dua hari yang disebabkan oleh koreksi harga secara signifikan di pasasr crypto. 

Pada saat itu ia membuka posisi di pasar derivatif untuk mencari keuntungan dari dana yang dikelolanya. Ia memiliki dana sekitar Rp21,7 Triliun dan kemudian ia menggunakan dana utang atau leverage dari beberapa bank dan meningkatkan posisinya hingga 23,3 kali lipat. 

Hasilnya ia melakukan transaksi trade untuk perusahaannya dengan dana sebesar Rp505,61 Triliun yang akhirnya hilang terkena margin call. 

Margin call ini berbeda dengan saat trading menggunakan exchange karena ia berada di tingkat institusi dan menggunakan utang dari bank. 

Pada saat kerugian terjadi, bank yang memberikan pinjaman menuntut dan bahkan menarik dana yang dipinjamkannya sehingga terjadi margin call secara skala besar. 

Hasilnya ia kehilangan Rp289,7 Triliun dan sedang ditangkap oleh pihak yang berwenang karena melakukan 11 pelanggaran hukum dalam transaksinya tersebut. 

Dari kejadian ini dapat dipelajari bahwa jika ingin menggunakan leverage pastikan dana yang digunakan tidak berlebihan sehingga sesuai dengan risiko yang sanggup ditanggung.

Selain itu, sesuatu yang tidak legal juga akan membawa permasalahan terutama saat di dunia keuangan, jadi lebih baik menjaga transaksi ke ranah yang legal. 

Tentu masih banyak lagi kerugian yang bahkan lebih besar. Namun lima kejadian ini dapat memberi pelajaran dan gambaran bagaimana dunia trading crypto yang harus dihindari dan apa yang harus dilakukan jika ingin trading crypto. .  

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.