3 Faktor Makroekonomi Ini Sebabkan Harga Crypto Koreksi

Naufal Muhammad

18th February, 2022

Mayoritas saham Amerika dan crypto terlihat koreksi dengan Bitcoin yang jatuh 9% dari harga tertinggi hingga harga terendah kemarin.

Koreksi ini diprediksi terjadi akibat banyaknya faktor makroekonomi yang membuat investor belum yakin terhadap kondisi perekonomian saat ini.

Berikut adalah tiga faktor makroekonomi yang terjadi saat ini dan membuat mayoritas aset keuangan seperti crypto bergerak turun.

Konflik Rusia-Ukraina Masih Belanjut

Faktor pertama yang terlihat mempengaruhi mayoritas aset keuangan adalah konflik yang sedang terjadi antara Rusia, Ukraina, dan Amerika.

Walau sebelumnya telah ada kabar bahwa Rusia telah menarik kembali sebagian pasukannya, saat ini kondisi masih terlihat panas.

Kondisi tersebut terjadi akibat adanya kabar bahwa NATO dan Amerika percaya bahwa Rusia masih belum selesai dan merencanakan penyerangan secara diam-diam.

Terdapat kabar juga bahwa beberapa tentara Rusia terlihat masih bergerak mendekati perbatasan Ukraina dan melakukan penyerangan digital melalui peretasan terhadap situs pemerintah Ukraina.

Saat ini Presiden Amerika, Joe Biden, menyatakan bahwa ancaman invasi Rusia terhadap Ukraina masih relatif tinggi.

Namun kabar baiknya Amerika masih menemukan ruang untuk menyelesaikan permasalahan ini melalui solusi diplomasi.

Kabar bahwa pasukan Rusia mulai masuk secara perlahan ke perbatasan juga dinyatakan oleh Inggris yang nampaknya mulai terlibat dalam konflik ini.

Kementerian Pertahanan Inggris baru saja mempublikasi prediksi rencana Rusia untuk mulai menyerang Ukraina yang membuat konflik ini semakin panas.

Untuk saat ini, konflik masih melibatkan NATO, Rusia, Amerika, dan Ukraina saja, tapi jika terus meningkat dapat melibatkan lebih banyak pihak, termasuk Eropa.

Baca juga: Rusia Susun Regulasi Aset Crypto Sebagai Alat Tukar

Perang menjadi salah satu faktor kekhawatiran akibat dengan perang, umumnya perekonomian bergerak turun.

Jika perekonomian bergerak turun umumnya konsumsi dan investasi akan bergerak turun. Hal ini disebabkan rumus perhitungan pertumbuhan ekonomi saat ini yang melibatkan konsumsi dan investasi dalam menentukan pertumbuhan.

Jadi jika terjadi perang dan tercatat perekonomian bergerak turun, maka asumsinya investasi dan konsumsi akan turun. Melihat pasar keuangan adalah bagian dari investasi dan konsumsi, perang dapat membuat mayoritas aset bergerak turun dan investor resah.

Inflasi dan Suku Bunga Acuan Amerika

Faktor kedua yang mempengaruhi mayoritas aset berisiko adalah angka inflasi Amerika dan suku bunga acuan Amerika.

Perekonomian Amerika sangat diperhatikan akibat mayoritas negara di dunia saat ini melakukan transaksi dengan Dolar Amerika.

Transaksi tersebut juga termasuk di pasar keuangan dengan Amerika yang saat ini menjadi negara dengan volume transaksi pasar keuangan terbesar di crypto dan salah satu terbesar di pasar keuangan lain.

Oleh karena itu, kabar dari perekonomian Amerika akan berpengaruh secara signifikan, terutama terhadap pasar crypto dan saham.

Saat ini inflasi Amerika terlihat berada di angka 7,5%, angka tertinggi sejak 40 tahun terakhir, yang menandakan perekonomian sedang kurang baik.

Banyak analis yang menyatakan bahwa besarnya keterlibatan Amerika dalam konflik Rusia dan Ukraina adalah pengalihan dari permasalahan ini.

Salah satu yang mengatakan hal tersebut adalah David Lifchitz yang tercatat dalam artikel Cointelegraph. Ia menyatakan,

“Semua terlihat seperti pengalihan dari isu inflasi dan suku bunga acuan. Konflik yang terjadi hanya akan bertahan beberapa bulan namun isu inflasi ini dapat berjalan bertahun-tahun dan berdampak lebih besar dalam waktu yang lebih lama.”

Inflasi yang tinggi tersebut seharusnya ditangani dengan suku bunga acuan yang mulai naik, namun saat ini belum ada Tindakan dari Bank Sentral Amerika.

Kabar baiknya dalam jangka panjang jika suku bunga acuan naik maka nilai dolar dan perekonomian bisa mulai pulih dengan asumsi tidak ada dampak Covid-19 dan perang.

Baca juga: Inflasi Tak Bisa Dihindari, Miliarder Beralih ke Bitcoin

Kabar buruknya dalam jangka pendek, jika suku bunga acuan naik maka aset berisiko seperti crypto dan saham akan turun karena akan ada perpindahan dana dari aset berisiko ke aset pengaman.

Kondisi yang belum pasti ini membuat mayoritas aset relatif stagnan beberapa pekan terakhir jika diliat dari jangka waktu yang besar.

Sehingga kondisi ini juga menjadi salah satu hal yang membuat belum adanya pergerakan positif dari crypto dalam beberapa pekan terakhir.

Kerusuhan Negara Lain dan Covid

Terakhir adalah beberapa tambahan kasus dari negara lain seperti contohnya di Kanada dimana terdapat kerusuhan terkait pembatasan akibat Covid-19.

Saat ini sedang terjadi protes dari masyarakat Kanada terhadap pemerintah, akibat peraturan pembatasan yang dianggap merugikan.

Protes tersebut dimulai dari beberapa “supir truk” atau “truckers” yang dianggap dirugikan akibat pembatasan sosial dan beberapa jalan yang ditutup.

Hal tersebut disebabkan adanya kewajiban vaksin yang ditolak oleh beberapa pihak tersebut. Kasus ini membesar akibat truk tersebut berperan penting terhadap perdagangan internasional.

Daerah perbatasan yang dibatasi adalah jalan truk untuk mengantar barang untuk perdagangan internasional, terutama antara Kanada dan Amerika.

Akibat pembatasan ini banyak pebisnis yang melaporkan kerugian sehingga memicu konflik yang membuat keresahan masyarakat.

Melihat Kanada sebagai salah satu negara yang memiliki dukungan besar terhadap crypto dan volume transaksi yang relatif tinggi kabar ini mengkhawatirkan.

Ditambah lagi saat ini Pemerintah Kanada dikabarkan melakukan pembatasan dan pembekuan terhadap rekening bank dan wallet crypto di bursa milik individu yang terlibat dalam perang.

Awal mula pembatasan tersebut adalah akibat banyaknya donasi yang masuk dari para pendukung protes terkait pembatasan sosial yang dianggap kurang jelas.

Mayoritas donasi mulai masuk dalam bentuk crypto yang dapat memicu pelarangan terhadap crypto. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen negatif untuk crypto.

Tapi jika donasi tersebut meningkat dan masyarakat bergerak cerdas untuk menggunakan DeFi untuk menghindari peraturan, nampaknya volume crypto dapat naik dan menjadi sentimen positif.

Kasus lain juga berasal dari Hong Kong dan Cina yang terlihat masih kewalahan terkait menangani pandemi yang sedang terjadi.

Jika kondisi tersebut berlanjut dan menyebar ke negara lain, pertumbuhan ekonomi akan terus terhambat.

Teori Keynesian Economics menyatakan dua hal yang menghambat ekonomi adalah pandemi virus dan perang. Saat ini keduanya ada kemungkinan akan terjadi.

Untuk saat ini banyak analis yang percaya bahwa, selama Bitcoin belum menembus $33.000 atau $48.000 pergerakan harga masih akan terus stagnan.

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.