3 Alasan Elon Musk Tidak Layak Menjadi Panutan di Dunia Crypto

Naufal Muhammad

4th June, 2021

Banyak pihak yang berasumsi bahwa pasar crypto terutama Bitcoin hanya dipengaruhi oleh satu orang yang bernama Elon Musk.

Walau asumsi tersebut bisa dibilang sangat salah, hal tersebut cukup masuk akal.

Sebab, umumnya sesuatu yang terkait dirinya dapat mempengaruhi pergerakan harga.

Fenomena ini adalah fenomena yang baru terjadi sekitar 2021 karena dari 2009 hingga 2020 ia tidak memiliki pengaruh apa pun.

Sehingga dapat diasumsikan bahwa kemungkinan besar pengaruhnya hanya dianggap oleh investor yang relatif baru.

3 Alasan Elon Musk Bukan Panutan Baik di Dunia Crypto

Selain itu data Glassnode membuktikan saat FUD Elon Musk terjadi, yang melakukan penjualan adalah wallet dengan umur kurang dari 4 bulan.

Mayoritas investor institusional dan “Veteran” juga saat ini menganggap bahwa Elon Musk sebenarnya tidak relatif dan hanya membuat kekhawatiran di investor baru.

Dalam artikel ini akan diberikan beberapa alasan mengapa banyak pihak mulai mempertimbangkan untuk tidak mendengarkan Elon Musk jika terkait perihal crypto.

Satu alasan mengapa Elon Musk dapat dikatakan tidak lazim untuk dijadikan acuan adalah adanya potensi kepentingan bisnis.

Beberapa analis mulai memperlihatkan adanya potensi manipulasi sentimen untuk menguntungkan bisnis dari Elon Musk.

Terdapat dua sisi yang bisa diambil yaitu dari sisi adanya pencarian masalah untuk Elon Musk berikan solusi dan adanya sisi pengamanan bisnisnya.

1. Menjaga Keuntungan Perusahaan

Di satu sisi nampaknya Elon Musk menyadari pengaruhnya dan memanfaatkan hal tersebut untuk menjaga bisnisnya.

Hal ini digarisbawahi oleh beberapa analis saat Tesla berhenti menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran.

Alur analisis tersebut dinyatakan oleh salah satu analis di Twitter dengan nama @CroissantEth yang memberikan pandangannya terhadap tujuan akhir Elon Musk

Hal utama yang perlu digarisbawahi adalah pemanfaatan keberadaan Musk untuk menjaga keuntungan perusahaannya.

Jika belum mengetahui, saat ini Tesla bergerak di bidang manufaktur perangkat transportasi dimana dalam bidang manufaktur, umumnya terdapat alokasi emisi karbon oleh pemerintah.

Hal tersebut adalah pengaturan oleh pemerintah tentang seberapa banyak sebuah perusahaan dapat mengeluarkan emisi karbon atau melakukan polusi.

Alokasi tersebut bernama Carbon atau Environmental Credit yang dapat diperjualbelikan antar perusahaan manufaktur untuk dapat menambah emisi karbonnya.

Tesla sendiri memiliki alokasi yang kecil melihat perusahaannya bergerak dalam energi terbarukan, sehingga biasanya Tesla menjual alokasinya ke perusahaan lain.

Umumnya yang membeli adalah perusahaan yang ingin melakukan polusi atau mengeluarkan emisi karbon lebih dari jatah yang diberikan oleh pemerintah.

Tesla mendapatkan keuntungan lebih dari penjualan alokasi emisi karbon ini dibandingkan mobilnya menurut laporan keuangannya.

Setelah menerima Bitcoin yang juga masuk ke alokasi emisi karbon itu, pendapatannya terlihat turun dan kemungkinan menjadi penyebab Tesla berhenti menerima Bitcoin.

Jadi perlu diketahui bahwa ada kepentingan bisnis dibalik berhentinya Tesla menerima Bitcoin dan bukan salah dari fundamental Bitcoin itu sendiri.

Namun Tesla dan Elon Musk juga menyatakan bahwa mereka tidak menjual Bitcoin yang dimiliki sama sekali, dan hal ini berhubungan dengan sisi kedua.

2. Mencari Potensi Keuntungan Bisnis Baru

Sisi kedua adalah pencarian solusi bisnis ini dikemukakan oleh salah satu analis dan pakar di pasar crypto bernama  Anthony Pompliano dalam wawancaranya dengan CNBC.

Ia menyatakan bahwa sebenarnya Elon Musk mengetahui bahwa 75% energi yang digunakan oleh Bitcoin dalam menambang adalah energi ramah lingkungan.

Namun Elon Musk menyatakan masalah ini dengan kemungkinan membentuk solusi untuk penambangan Bitcoin yang lebih ramah lingkungan.

Nanti jika hal tersebut terjadi maka kemungkinan Musk akan memanfaatkan momentumnya untuk menjual solusi yang dimilikinya kepada penambang. Pompliano menyatakan,

“Saya merasa ada pola disini dimana nantinya Tesla akan meluncurkan alat penambangan (mining rig) yang lebih ramah lingkungan. Jadi saat ini menurut saya adalah rencana pemasaran dengan Musk menarik perhatian kepada permasalahan lingkungan ini dan memberikan solusi agar terlihat sebagai “pahlawan” dan menghasilkan uang.”

Sentimen ini juga diikuti oleh beberapa analis lainnya dimana salah satunya memperlihatkan bahwa sebenarnya Tesla dan Elon Musk sendiri masih memiliki Bitcoin.

Data tersebut terlihat melalui laporan penelitian Ark Invest yang menyatakan partisipasi Tesla di pasar Bitcoin.

Selain itu laporan tersebut juga memperlihatkan bahwa ada potensi pengambilan keuntungan dan potensi pemasaran untuk berujung menghasilkan uang seperti pandangan Pompliano.

Sehingga hal tersebut juga membuktikan mengapa adanya kepentingan pribadi Musk membuat keberadaannya cukup riskan jika dijadikan panutan.

Namun hal tersebut juga menandakan kemungkinan partisipasi Elon Musk dan Tesla dalam jangka panjang terhadap Bitcoin.

Sentimen ini juga sejalan dengan rencananya saat ini bersama Michael Saylor dalam membentuk Dewan Pengawas Penambangan.

3. Bersikap Acuh Sebagai Ritel Bukan Institusional

Selain karena kepentingan pribadi yang telah disampaikan di atas, Elon Musk juga berperan sebagai investor ritel.

Sehingga untuk menjadikannya panutan adalah sebuah hal yang kurang layak akibat ia tidak memiliki kepentingan untuk menjaga kepemilikannya.

Selain itu, melihat perannya sebagai ritel yang merupakan seorang manusia biasa, ia juga punya hak untuk berekspresi di sosial media pribadinya.

Sayangnya banyak pihak yang menganggap hal tersebut sebagai sebuah hal yang penting, walau kenyataannya, ia hanya manusia biasa yang mengekspresikan pandangannya di media sosial pribadi.

Karena tidak ada kewajiban apa pun, ia juga dapat bersikap seacuh mungkin dan bahkan memanfaatkan kekuatan yang ia miliki.

Sehingga untuk orang yang masih menganggap pandangannya sebagai sentimen untuk pergerakan harga masih dapat dikatakan kurang “dewasa” di pasar crypto.

Sayangnya Musk juga masih bersikap acuh dengan beberapa cuitannya di Twitter yang terus mendorong investor terutama pemula untuk percaya pandangannya.

Oleh karena itu saat ini mayoritas analis handal dan investor veteran mulai mengingatkan untuk tidak terlalu mendengarkan Elon Musk.

Hal ini juga membuat Bitcoin bergerak tidak sehat dan tersentralisasi. Sehingga mulai banyak yang menyadarkan pasar terhadap tidak relevannya Elon Musk.

Saat ini sentimen media sosial terhadap Elon Musk juga terus negatif. Terlihat sentimen negatifnya naik hingga 35% sejak “manipulasinya” terhadap Bitcoin menurut data dari Awario.

Sehingga kesimpulannya saat ini Elon Musk hanya dilihat oleh investor pemula dan investor institusional serta pakar menganggap ia tidak relevan.

Jadi artikel ini dapat dijadikan pertimbangan jika kalian masih menganggap Elon Musk sebagai tokoh yang penting.

Namun perlu diingat bahwa artikel ini tidak bermaksud untuk menggiring opini.

Tapi artikel ini hanya analisis pribadi penulis untuk mengedukasi dan memberi pandangan tambahan di pasar crypto.

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.