Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Jangan Tertukar, Ini 5 Perbedaan Bitcoin dan Uang Elektronik

Wafa Hasnaghina     Thursday, November 5 2020

Dengan perkembangan teknologi, belakangan waktu ini banyak sekali uang elektronik yang hadir untuk memudahkan dalam jual/beli atau transaksi lainnya. Tidak jarang, banyak orang yang mengaitkan uang elektronik dan Bitcoin. Namun, jika diamati lebih jauh keduanya jelas berbeda. 

Salah satu dasar yang membuat mereka berbeda adalah uang elektronik itu berdasar pada uang fiat di negara tertentu, Bitcoin itu tidak memiliki dasar uang fiat tertentu dan berdiri sendiri seperti layaknya mata uang biasa. Yang membuatnya sama hanyalah, mereka terdata secara elektronik atau virtual. 

Lalu, apa lagi ya perbedaan di antara keduanya? Simak selengkapnya di artikel Coinvestasi di bawah ini!

5 Perbedaan Uang Elektronik dan Bitcoin

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, uang elektronik dan Bitcoin itu sama-sama digunakan sebagai uang virtual. Mereka tidak memiliki bentuk fisik dan hanya tercatat di dalam jaringan. Itu mungkin sebabnya, Bitcoin sering disamakan dengan uang elektronik. Namun, jangan salah mereka memiliki dasar yang berbeda.

1. Bitcoin Berada di Jaringan Blockchain

Bitcoin yang diciptakan oleh Satoshi Nakamoto merupakan mata uang yang terbilang unik. Pasalnya ia dirilis sebagai mata uang dengan konsep sistem peer-to-peer dan menggunakan teknologi blockchain. Jaringan ini mengusung konsep di mana setiap entitas yang berada di dalam jaringan tersebut memiliki kewenangan yang sama, dalam arti apa yang terjadi di dalamnya merupakan kesepakatan atau konsensus bersama.

Sedangkan, peredaran uang elektronik ada di dalam jaringan internet biasa. Uang elektronik sendiri memiliki 2 jenis media penyimpanan, yaitu card based (chip) seperti misalnya, E-Money (Bank Mandiri), Flazz (Bank BCA), Tap cash (Bank BNI), dan lainnya. Ada juga yang menggunakan server based seperti GoPay, LinkAja, OVO, dan lainnya. 

Sistem keuangan yang digunakan Bitcoin dan uang elektronik harus tehubung dengan internet. Tanpa internet, sistem operasional kedua mata uang ini tidak akan bisa berfungsi.

Dalam hal ini, Bitcoin memiliki keunggulan lebih, di mana Bitcoin tidak berpusat pada hanya satu server atau satu buku besar pencatatan. Jadi, jika terjadi listrik mati, atau gangguan internet pada satu entitas, pencatatan transaksi Bitcoin akan tetap terlaksana. 

2. Sentralisasi vs Desentralisasi

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Bitcoin berada di dalam jaringan blockchain yang sifatnya terdesentralisasi. Desentralisasi ini sistem yang membuat seluruh entitasnya memiliki kewenangan dalam memutuskan sesuatu, dalam arti satu entitas atau individu tidak dapat merubah apapun jika tidak ada persetujuan dari mayoritas pengguna sistem. 

Hal ini berbeda dengan uang elektronik yang berada pada sistem tersentralisasi. Di mana pencatatan biasanya ada pada tempat tertentu dan biasanya diatur serta dimonitor hanya oleh satu entitas. Misalnya saja, Bank Sentral.

Lebih lagi, ketika entitas tersebut dimiliki oleh pihak swasta dan bukan negara maka yang berwenang untuk mengontrol dan memonitor uang tersebut adalah entitas swasta tersebut.

3. Fiat vs Bitcoin

Jika mata uang fiat diproduksi dan dikontrol oleh pemerintahan (misalnya saja, Rupiah yang diatur dan diawasi peredarannya oleh Bank Indonesia), bitcoin tidak diproduksi dan diatur oleh entitas tertentu. Melainkan ia diproduksi dengan rumus matematika dan kriptografi tertentu dan nilainya berdasarkan pada konsensus di dalam jaringan. 

Bitcoin yang merupakan mata uang crypto pertama dan (saat ini) terbesar. Nilainya sekarang (harga tertinggi pada 3 November 2020) mencapai Rp205 Juta per Bitcoin. 

Terlebih Bitcoin ini dapat dimiliki dan digunakan oleh semua orang yang terkoneksi dengan jaringan internet, dan dapat diperjualbelikan di mana saja di seluruh dunia. 

Sedangkan, uang elektronik memiliki dasar uang fiat dan juga regulasi yang berbeda pada masing-masing negara, serta diproduksi oleh masing-masing bank sentral negaranya. Misalnya saja, uang elektronik di Indonesia memiliki dasar Rupiah dan tentunya ia diatur serta hanya bisa digunakan di Indonesia. 

Contoh lain misalnya PayPal di Amerika, dasar yang digunakan oleh PayPal menggunakan dolar. Jadi, ketika bertransaksi menggunakan PayPal biasanya uang akan dikonversikan ke dolar terlebih dahulu untuk dapat digunakan. 

4. Biaya dan Lamanya Transaksi

Dalam biaya transaksi, Bitcoin juga memiliki keunggulan. Hal ini mengingat, Bitcoin tidak diatur dan dikontrol oleh satu entitas, serta yang pasti dengan sistem peer-to-peer-nya Bitcoin tidak memiliki perantara atau pihak ketiga. Ini membuat biaya transaksi dengan Bitcoin menjadi sangat rendah. Misalnya saja, ada berita yang menyebutkan transfer Bitcoin dengan nilai hingga miliaran Rupiah, tetapi biaya yang dikeluarkan hanya sebesar Rp70.000 dengan waktu hanya beberapa detik.

Jika mengacu pada uang elektronik di Indonesia jelas berbeda. Untuk mentransfer uang dari Bank satu ke Bank lainnya saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terlebih jika uang yang ditransfer itu bernominal besar, biaya yang harus ditanggung juga ikut besar, ditambah biasanya akan ada waktu yang diperlukan untuk mentransfer uang tersebut. 

Contoh lain adalah mentransfer uang dari Bank ke uang elektronik server based seperti GoPay. Setiap bank memiliki biaya transaksi yang berbeda. Pada contoh ini, ada kemungkinan uang yang dikirim mengalami hambatan karena jaringan internet. Biasanya jika hal ini terjadi, akan ada waktu tunggu agar uang terproses dan dapat digunakan. 

5. Identitas pada Bitcoin dan Uang Elektronik

Pengguna Bitcoin akan tercatat secara anonimitas dengan hanya menampilkan identitas publik, tetapi semua transaksi, jumlah, waktu, dan alamat wallet ketika bertransaksi akan disimpan secara lengkap dan jelas di dalam jaringan.

Hal ini membuat Bitcoin dapat dipertanggungjawabkan secara langsung oleh penggunanya. Sambil juga menjaga privasi dari kepemilikan identitas tersebut.

Di sisi lain, uang elektronik dengan sifatnya yang sentral dan diregulasi oleh entitas pemerintahan maupun swasta, serta memiliki standar tertentu, ini membuat identitas pribadi akan menjadi syarat dalam penggunaanya. 

Perkembangan Bitcoin di Masa Mendatang

Di tahun 2020 ini, pengadopsian Bitcoin sebagai alat pembayaran maupun aset terus berkembang. Pasalnya, banyak perusahaan yang mulai mempertimbangkan dan menjadikan Bitcoin sebagai aset utama maupun cadangan dalam portofolionya.

Ditambah, banyaknya negara yang juga mulai berlomba-lomba untuk membuat mata uang digitalnya sendiri. Misalnya, China sudah melakukan uji coba Yuan Digital dan juga sistem pembayarannya. Belum lagi, negara-negara di dunia sedang membangun blockchainnya masing-masing untuk mata uang digital tersebut.

Bukan tidak mungkin jika nantinya Bitcoin akan bisa digunakan untuk pembayaran online dan digunakan sebagai alat pembayaran elektronik dan uang biasa.

Menarik bukan? Kalo kamu sudah kah membeli Bitcoin hari ini?

Mulai trading Bitcoin di Pintu sekarang 💰

Nah, itulah 5 perbedaan antara uang elektronik dan juga Bitcoin. Sama-sama dalam bentuk digital, tetapi sistem dan juga cara kerja mereka berbeda. Jangan sampai ketukar apalagi salah ya!

Artikel Terkait

 Lihat Lebih