Aset Kripto · 5 min read

Turki dan Argentina Inflasi Tinggi, Adopsi Kripto Justru Menguat!

Argentina dan Turki Inflasi Tinggi, Bitcoin Melonjak

Di tengah kekhawatiran kenaikan inflasi di Amerika Serikat karena krisis bank yang sedang berlangsung, Argentina dan Turki, telah alami mengalami inflasi tinggi lebih dulu.

Dilansir dari Investmentmonitor.ai, pada Januari 2023, tingkat inflasi di Turki mencapai 57,7%. Artinya, harga barang yang sebelumnya dijual seharga 100 lira Turki pada Januari 2022, sekarang harus dibayar sebesar 157,7 lira.

Gambar tingkat inflasi di Argentina dan Turki. Sumber: National Statistics Offices

Sementara itu, Argentina mengalami hiperinflasi. Pada Januari 2023, harga barang naik sebesar 98,8% dibandingkan dengan Januari 2022.

Permasalahan inflasi di Argentina itu telah dihadapi selama beberapa tahun. Selama pandemi Covid-19, inflasi meningkat menjadi 50% pada 2019, sementara pada tahun 2016 inflasi mencapai 40%.

Adopsi Bitcoin (BTC) Di Tengah Inflasi

Gambar: Tingkat adopsi kripto negara G20. Sumber: Laporan Chainanalysis

Di tengah inflasi itu, tingkat adopsi Bitcoin di dua negara tersebut justru cukup baik.

Berdasarkan laporan Chainanalysis: Indeks Adopsi Kripto Global 2022 memperlihatkan Turki dan Argentina masuk ke dalam papan tengah di antara 20 negara dengan adopsi kripto tertinggi, masing-masing di posisi 13 dan 14.

Harga BTC terhadap PESO Argentina pun menguat 20% dalam setahun terakhir, walau harga BTC membukukan penurunan 34% terhadap dolar AS selama periode yang sama.

Negara-negara berpenghasilan menengah dan menengah atas sering mengandalkan aset kripto untuk mengirim pengiriman uang, menjaga tabungan mereka di saat volatilitas mata uang fiat, dan memenuhi kebutuhan keuangan lainnya untuk ekonomi mereka. Negara -negara ini juga cenderung bersandar pada bitcoin dan stablecoin lebih dari negara lain

Laporan Chainalysis 2022.

Sementara itu, masyarakat Turki semakin sering mengubah Lira menjadi USD atau emas karena mata uang tersebut telah kehilangan 90% nilainya sejak 2008. Menurut laporan Cryptopotato, Bitcoin dan Tether telah menjadi perdagangan paling populer melawan Lira selama tiga tahun terakhir.

Reuters juga melaporkan, di tengah inflasi antara 20-24 Maret 2021, ketika lira anjlok 10% setelah pemecatan gubernur bank sentral, kripto senilai 23 miliar lira telah diperdagangkan. Sementara itu, pada Desember 2021 saja, satu juta aset kripto telah diperdagangkan di Turki.

Namun, perlu jadi perhatian, inflasi bukan satu-satunya faktor yang meningkatkan adopsi kripto, masih ada faktor lainnya seperti regulasi, teknologi, kemudahan dalam transaksi, dan lain sebagainya.

Baca juga: Adopsi Kripto di Indonesia Masuk Tiga Besar Tertinggi di Dunia

Disclaimer

Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.

Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.

Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.

author
Anggita Hutami

Editor

arrow

Terpopuler

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

#SemuaBisaCrypto

Belajar aset crypto dan teknologi blockchain dengan mudah tanpa ribet.

Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.