Tingkat Bitcoin Hash Melonjak ke All-Time-High Baru

Wafa Hasnaghina

8th July, 2020

Setelah halving rewards Bitcoin berlalu, banyak analis di ruang Bitcoin yang berharap hadirnya “death spiral (Spiral Kematian)”.

Istilah ini dibuat oleh seorang profesor pada 2018 lalu yang berspekulasi bahwa BTC bisa jatuh ke level benar-benar $ 0 karena jatuhnya para penambang. “Spiral kematian” ini menurut seorang jurnalis, terjadi ketika para penambang Bitcoin meninggalkan jaringan, menghasilkan transaksi yang lambat atau bahkan tidak ada sama sekali, membuat BTC secara intrinsik tidak berharga.

“Seperti yang saya katakan, begitu harga Bitcoin turun di bawah biaya penambangannya, insentif menambang akan memburuk, mendorong bitcoin ke dalam spiral kematian. Artinya, tanpa aktivitas penambangan yang mendukung buku besar yang menyimpan catatan tentang siapa yang memiliki apa, BTC menjadi tidak berharga,” bunyi kutipan dari sebuah artikel mengenai spiral kematian ini.

“Spiral kematian” ini tidak pernah terjadi, dengan data baru menunjukkan bahwa penambang Bitcoin lebih bullish dari sebelumnya.

Baca juga: Bitcoin Capai Tingkat Hash Rate Tertinggi Sepanjang Masa!

Tingkat Bitcoin Hash Membentuk All-Time-High Baru

Menurut perusahaan data crypto TradeBlock, tingkat hash jaringan Bitcoin baru saja mencapai rekor All-Time-High baru. Perusahaan berbagi gambar di bawah ini pada 7 Juli lalu, menunjukkan tingkat moving average tujuh hari dari tingkat hash sekarang di atas 124 exahash per detik. Ini lebih dari dua kali lipat dari yang terlihat tahun lalu.

Tingkat hash adalah ukuran daya komputasi yang digunakan dalam mengamankan transaksi pada jaringan blockchain. Sebagaimana Bitcoin.org menjelaskan istilah ini:

“Tingkat hash adalah unit pengukur kekuatan pemrosesan jaringan Bitcoin (…) Ketika jaringan mencapai tingkat hash 10 Th / s, itu berarti ia bisa membuat 10 triliun hitungan per detik.”

Investor di ruang crypto menanggapi metrik ini dengan optimisme yang luar biasa. Seorang pedagang bahkan membuang jauh-jauh narasi spiral kematian, menanyakan di mana sebenarnya spiral kematian itu berada.

Optimisme mereka tidak berdasar? analisis menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas penambangan Bitcoin harus sesuai dengan harga yang lebih tinggi pada BTC.

Teori ini dikuatkan dengan model harga dari manajer aset digital dan investor Charles Edwards. Pada tahun 2019, ia mengeluarkan model yang menunjukkan bahwa harga Bitcoin selalu terpusat pada konsumsi energinya dalam joule.

Edwards baru-baru ini menemukan, dengan lonjakan tingkat hash yang sedang berlangsung, Bitcoin sekarang diperdagangkan sekitar 27% di bawah nilai energinya. Jika tingkat hash tetap setinggi ini, BTC kemungkinan akan tertarik pada nilai energinya.

Katalis Dibalik Lonjakan Hash Rate

Di balik lonjakan tingkat hash yang sedang berlangsung, tampaknya ada dua katalis yang benar-benar mempengaruhi hal tersebut:

  • Musim hujan di Tiongkok: Sebagian besar jaringan Bitcoin ditenagai oleh pembangkit listrik tenaga air Tiongkok di wilayah sungai China. Dengan saat ini sedang musim hujan / banjir di China, tingkat listrik tenaga air sekarang jauh lebih murah daripada di musim lain. Ini memberi insentif kepada penambang untuk menghidupkan lebih banyak mesin.
  • Perusahaan pertambangan meluncurkan ASIC baru: Perusahaan pertambangan terus meluncurkan perangkat ASIC baru, membuatnya lebih menguntungkan dalam menambang Bitcoin.

Menimbang bahwa perusahaan pertambangan terus mengeluarkan perangkat keras baru dan musim hujan masih berlangsung, tingkat hash Bitcoin dapat membuat tren lebih tinggi.

Informasi ini diolah dan disunting kembali dari Newsbtc.com