Prediksi Ekonomi Makro Q4: Kripto Masih Berpotensi Turun

Naufal Muhammad

23rd September, 2022

Kuartal empat 2022 akan segera dimulai dan banyak bank sentral dan pemerintah di masing-masing negara yang mempersiapkan strategi baru. 

Mayoritas negara di dunia masih memiliki pandangan kontraktif yaitu pandangan untuk menerapkan kebijakan yang mengurangi jumlah uang beredar dan menurunkan inflasi. 

Terdapat prediksi bahwa perekonomian di kuartal keempat 2022 masih akan terlihat buruk bahkan berlanjut hingga 2023. 

Prediksi Makroekonomi Global 

Pandangan kontraktif ini diawali oleh Amerika yang baru saja menentukan suku bunga acuan untuk Oktober 2022.

Amerika baru saja meningkatkan suku bunga acuan menjadi 3,25% dari sebelumnya 2,5% dan diprediksi akan meningkatkan suku bunga acuan di 2022 hingga mencapai 4% atau 4,5% yang akan bergantung pada kondisi perekonomian. 

Langkah ini dilakukan akibat angka inflasi yang sudah melambung tinggi terutama di Agustus 2022 yang telah mencapai angka 8,26%, relatif turun dari angka tertingginya di 2022 yaitu di 9,06%. 

Prediksi Pergerakan Makroekonomi Global Q4 2022
Data Inflasi Amerika dari YTCharts

Walau begitu, Bank Sentral Amerika melalui komite operasi pasar terbuka atau FOMC memprediksi bahwa penurunan dalam inflasi akan membuat perekonomian mulai membaik secara perlahan. 

Indikator yang digunakan dalam mengukur perekonomian tersebut adalah angka Produk Domestik Bruto atau PDB Amerika yang diprediksi akan tumbuh 1,2% di 2023 dibandingkan 0,2% di 2022. 

Banyak negara lain yang mengikuti beberapa diantaranya adalah negara-negara di Eropa yang mengalami kondisi sama dari sisi makroekonomi. 

Inflasi Eropa saat ini juga telah mencapai angka yang relatif tinggi bahkan lebih tinggi dari Amerika yaitu pada 9,1% secara tahunan di 2022 ini. 

Menanggapi kondisi ini Eropa juga masih menerapkan kebijakan kontraktif dimana terjadi penerapan suku bunga lebih tinggi di September 2022 yaitu naik dari 0,5% menjadi 1,25% untuk suku bunga acuan pinjaman dan naik dari 0% menjadi 0,75% untuk suku bunga acuan tabungan. . 

Eropa baru akan menentukan suku bunga acuan kembali pada awal Oktober 2022 karena berbeda dengan Amerika, Eropa akan menentukan suku bunga acuan di setiap awal bulan. 

Untuk saat ini masih belum ada prediksi terkait suku bunga acuan baru, tapi mengingat pandangan bank sentral saat ini adalah kontraktif, kemungkinan suku bunga acuan akan terus naik. 

Indonesia juga memiliki pandangan yang sama dimana Bank Indonesia baru saja meningkatkan suku bunga acuan yaitu pada 4,25% naik dari 3,75% di bulan Agustus 2022. 

Langkah ini dilakukan untuk melawan inflasi yang diprediksi juga akan mengalami apresiasi hingga 5,89% dari 4,69% menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. 

Jadi untuk saat ini terlihat bahwa mayoritas negara di dunia akan menerapkan pandangan kontraktif untuk mengurangi jumlah uang beredar karena mayoritas negara sedang menghadapi masalah yang sama yaitu inflasi tinggi. 

Syekhan Adesia Ramadhan, Junior Economist Bank Indonesia, memberikan tanggapan pribadinya mengenai potensi pergerakan makroekonomi di kuartal empat 2022. Ia menyatakan, 

“Perekonomian global diprediksi berisiko tumbuh lebih rendah disertai dengan tingginya tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global. Penurunan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih besar pada tahun 2023 terutama di Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok, bahkan disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju. (…) Tekanan inflasi global semakin tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta terjadinya fenomena heatwave di beberapa negara. Inflasi di negara maju maupun emerging market meningkat tinggi, bahkan inflasi inti berada dalam tren meningkat sehingga mendorong bank sentral di banyak negara melanjutkan kebijakan moneter agresif.”

Syekhan juga menyatakan pandangannya mengenai kondisi perekonomian Indonesia yaitu kondisi suku bunga acuan Amerika yang meningkat sehingga menyebabkan aset investasi berisiko serta investasi di negara berkembang dengan mata uang kategori berisiko seperti di Indonesia akan menurun. 

Walau begitu, Syekhan juga akan memprediksi bahwa perekonomian Indonesia akan bergerak semakin membaik namun butuh waktu yang cukup panjang. 

“Perekonomian Indonesia terus melanjutkan perbaikan dengan semakin membaiknya permintaan domestik dan tetap positifnya kinerja ekspor. Konsumsi swasta tumbuh tinggi didukung dengan kenaikan pendapatan, tersedianya pembiayaan kredit, dan semakin kuatnya keyakinan konsumen, seiring dengan semakin meningkatnya mobilitas,” ujarnya. 

Terakhir ia menyatakan bahwa kebijakan moneter akan diarahkan untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 2% hingga 4% pada semester kedua 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah. 

Kripto Potensi Turun Hingga 2023

Melihat prediksi dari Syekhan serta adanya prediksi dari FOMC terkait perekonomian yang baru akan pulih menuju 2024 sampai 2025, kemungkinan besar dalam penurunan ekonomi global, kripto sebagai aset berisiko akan bergerak turun. 

Hal ini disebabkan dengan naiknya suku bunga acuan di berbagai negara terutama Amerika, mayoritas aset berisiko akan bergerak turun. 

Penurunan aset berisiko disebabkan oleh hubungan negatif antara aset pengaman seperti Dolar Amerika dan aset berisiko seperti kripto. 

Baca juga: Mengenal Bitcoin Halving Dan Dampaknya Pada Harga

Jadi melihat perekonomian yang belum akan pulih hingga 2024 atau 2025 dan suku bunga acuan yang akan terus naik, kemungkinan besar bear market kripto akan terus berlanjut sesuai siklus. 

Jika perekonomian global mulai membaik, maka daya beli masyarakat akan membaik sehingga membuat ruang untuk kembali investasi dan membeli aset berisiko. 

Pemulihan ekonomi di 2024 hingga 2025 juga sesuai dengan siklus empat tahun kripto dimana bull market atau kondisi positif terjadi saat tahun halving dan satu tahun setelah halving Bitcoin. 

Mengingat halving berikutnya akan terjadi di 2024 diprediksi bahwa bull market akan terjadi di akhir 2024 hingga 2025. 

Jadi untuk saat ini langkah yang baik untuk dilakukan adalah mulai investasi dengan manajemen risiko yang baik untuk mendapat keuntungan di saat bull market nanti, mengingat harga kripto akan terus turun dan berkonsolidasi di daerah “murah” hingga 2023.

*Disclaimer

Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan saran atau ajakan untuk investasi atau trading. Risiko ditanggung masing-masing.  

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.