Peran Wanita dalam Blockchain Kian Sentral

febrian surya

17th August, 2020

Saat ini, kita cukup banyak melihat sosok wanita yang mengisi berbagai posisi atau jabatan strategis di perusahaan maupun pemerintahan. Di Indonesia, mungkin sosok Sri Mulyani yang menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia pernah mengemban tugas menjadi seorang direktur di Bank Dunia.

Sri Mulyani hanya contoh kecil saja dari eksistensi wanita dalam sebuah pemerintahan. Di luar sana, tentunya masih banyak lagi sosok wanita hebat lainnya yang menjabat posisi strategis di perusahaan.

Mungkin ranah teknologi sering dianggap bukanlah bidang yang cocok dengan wanita. Namun, faktanya tidaklah demikian melainkan banyak wanita-wanita hebat yang saat ini bekerja sebagai CEO maupun pegawai IT di perusahaan teknologi.

Baca juga: Jumlah Perempuan di Bidang Crypto dan Blockchain Meningkat Pesat di 2020

Kesejangan sosial inilah yang ingin diedukasikan untuk para wanita di Afrika dengan didirikannya Blockchain African Ladies (BAL). Di Afrika, Bitcoin telah menjadi suatu hal yang memiliki perspektif buruk setelah sejumlah investor kehilangan jutaan dolar dengan skema Ponzi. Namun, di luar itu semua Bitcoin memiliki hal-hal lain yang bisa ditawarkan kepada masyarakat dalam melakukan transformasi keuangan.

Lewat Blockchain African Ladies (BAL), para wanita yang tergabung ke dalam organisasi ini melakukan edukasi kepada ribuan orang Nigeria terkait peluang Bitcoin untuk bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat produktif lainnya dan mengubah cara pandang mereka terhadap Bitcoin setelah aksi penipuan yang pernah terjadi.

BAL saat ini memilik anggota di sejumlah negara Afrika seperti Kenya, Kamerun, Nigeria, Afrika Selatan, Ghana, Mesir, Pantai Gading, dan negara-negara lainnya. Event terbesar blockchain yang dihelat untuk wanita adalah Blocktech Women Conferences, di mana pada event ini 80% dari pembicaranya adalah seorang wanita. Tentunya hal ini berbeda dengan acara konferensi pada umumnya yang hanya ada beberapa wanita saja sebagai pembicara.

“Walaupun blockchain dapat membantu memberantas dan mengurangi, ada banyak tantangan yang perlu wanita Afrika lalui, memberikan edukasi kepada mereka dinilai belum cukup. Wanita harus menjadi mandiri secara finansial. Ini adalah senjata terbesar yang bisa digunakan untuk membebaskan diri. Ketika mereka tidak bergantung kepada siapa pun, kemudian mereka bisa mencapai potensi penuh yang dimiliki,” Doris Ojuederie, CEO Blockchain African Ladies (BAL).

Doris Ojuederie adalah sosok wanita hebat dalam blockchain yang menganggap bahwa wanita juga perlu diberikan kesempatan yang sama untuk memberikan sebuah pendapat di sebuah forum besar, hal ini merupakan bentuk kesetaraan gender.

Tak usah jauh-jauh hingga ke Afrika, di Indonesia kita juga memiliki sosok wanita hebat dalam blockchain yakni Pandu Sastrowardoyo yang ingin mem-blockchainkan Indonesia. Dengan cara melakukan digitalisasi elemen logistik, distribusi, sampai jasa keuangan menggunakan blockchain untuk memangkas biaya transaksi yang besar.

Sumber