Peluang Blockchain Bukan Pada Bitcoin?

By Aulia Medina     Monday, March 4 2019

Di 1970, seorang ilmuwan di IBM Research bernama Edgar F. Codd membuat penemuan luar biasa yang dapat mengubah dunia tetapi hanya beberapa orang menyadarinya pada saat itu, termasuk orang-orang yang bekerja di IBM yang lalai mengkomersialkannya. Ini disebut dengan model relasional untuk database dan akan memunculkan era baru yang serba memungkinkan.

Database relasional

Apa yang membuat relasional database penting adalah bagaimana cara mereka mengubah “pengelolaan data.” Mereka membuat data sepadan. Data base klasikal atau “fiat file” bekerja mirip seperti lembar kerja Excel. Mereka menyimpan data di kolom atau di baris yang tidak memiliki fleksibilitas. Kalian harus tau bagaimana database dipersiapkan untuk menemukan informasikan yang kalian butuhkan. Siapapun yang pernah mencoba memahami lembar kerja orang lain pasti tahu rasanya.

Dengan database relasional, namun yang kalian butuh tahu adalah pertanyaan bahasa dan kalian dapat mengutip apa yang kalian butuhkan dari setiap database siapapun yang mengaturnya. pada 1979, Larry Ellison dan kedua temannya meluncurkan produk komersial pertama yang berdasarkan ide Codd. Dua tahun kemudian, mereka mengubah nama perusahaannya menjadi Oracle. Karena database relasional kita sekarang dapat menikmati sistem seperti internet dari mana saja. Inilah membuat era reformasi.

Bitcoin adalah database baru?

Hari ini, hampir 50 tahun lalu setelah Codd merilis hasil kerjanya, kita memulai era baru. Blockchain, walaupun awalnya dimulai sebagai teknologi yang memungkinkan untuk mata uang digital, Bitcoin, pada dasarnya adalah jenis database baru. Yang mungkin terlihat mirip tetapi jika dampaknya seperti database relasional, ini akan mengubah bagaimana cara kita menggunakan informasi.

Untuk melihat bagaimana mempertimbangkan usaha patungan IBM dengan Maersk untuk mengembangkan infrastruktur blockchain untuk perdagangan global. Pikirkanlah seluruh kemacetan informasi kargo butuhkan melalui pelabuhan di seluruh dunia. Sebuah studi di tahun 2013 oleh World Economic Forum menemukan bahwa mengurangi gesekan back-office

dalam perdagangan internasional akan meningkatkan GDP hampir 5% dan perdagangan 15%. Jumlah GDP global sekitar $180 triliun, yang mana sekitar $4 triliun dampak potensi. Luar biasa menurut standar mana pun.

Baca juga: Blockchain semakin merambah Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya

Perubahan ini sudah semakin menajam. Walmart baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menggunakan blockchain untuk memperbaiki keamanan makanan, Dengan teknologi konvensional, butuh satu minggu untuk melacak asal produk yang terkontaminasi kembali ke pertanian asalnya tetapi dengan blockchain, Walmart berhasil menguranginya menjadi 2.2 detik.

Dengan itu bukan berarti semakin orang sedikit orang yang sakit, ini juga memungkinkan perusahaan secara tepat mengetahui dari mana asal masalah. Jadi, daripada membuang seluruh panen yang harus dilakukan hanyalah menyingkirkan produk yang terkontaminasi saja yang dapat menyelamatkan jutaan petani dari kehilangan pendapatan.

Sebagaimana ZIa Yusuf yang memimpin praktek Internet of Things, Boston Consulting Group katakan, “penggabungan antara blockchain, IoT (Internet of Thing) dan AI (artificial Intelligence) untuk mengoptimalkan rantai pasokan sangat menarik. Di industri tertentu dengan rantai pasokan yang kompleks dan margin tipis, penerapan kombinasi teknologi yang muncul ini untuk fungsi logistik dan pasokan berpotensi menjadi pembuat perbedaan yang nyata.”

Bitcoin adalah penipuan?

Dalam industri keuangan, CEO JP Morgan, Jamie Dimon pernah mengatakan Bitcoin adalah “penipuan,” karenanya ia meluncurkan mata uangnya sendiri, yaitu JPM Coin, untuk membuat transaksi lebih aman dan mudah untuk nasabahnya. Experian berpengalaman dengan menggunakan teknologi ini ini untuk mengotomasikan proses verifikasi untuk pinjaman dengan cara yang sama dengan perusahaan-perusahaan seperti Walmart gunakan untuk mengotomasikan rantai pasokan.

Namun dari semua ini yang mungkin menarik hanyalah sebuah prolog dan melihat kembali Edgar F. Codd dan database relasional menunjukan alasannya. Sangat sedikit orang yang mengucapkan istilah “database relasional,” tetapi hampir semua orang mendapat manfaat dari industri yang telah mereka hasilkan, seperti e-commerce dan media online. Dengan cara yang hampir sama, potensi sebenarnya untuk blockchain adalah perannya sebagai struktur data yang aman dan terdistribusi yang memiliki kekuatan untuk menelurkan model bisnis baru.

Contohnya, Vijay Mehta,  Chief Innovation Officer di kredit bito Experian mengatakan bahwa ia membayangkan kemungkinan perusahaan bekerja sama ekonomi berbagi dengan layanan keuangan, sehingga data yang berkontribusi dan analisis yang diberikan menjadi efisien pada saat yang bersamaan memelihara kontrol dari bagaimana dan kapan data digunakan, sama seperti teknologi Digital Rights Management (DRM) memungkinkan bangkitnya media digital.

“DRM untuk data” ini adalah aspek blockchain yang memiliki potensi yang besar. Contohnya Hu-manity.co adalah startup baru yang berencana memberikan kontrol lebih besar atas data sehat mereka. Ketika menandatangani formulir untuk data yang akan digunakan dalam penelitian, kita memberikannya begitu saja. Namun, dengan blockchain, kita dapat melacaknya, memutuskan untuk diri kita sendiri bagaimana kita ingin data kita digunakan dan bahkan diganti.

Sumber