Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Mengapa Harga Bitcoin “Dump” dari $10K ke Pertengahan $8K Menjelang Halving?

Wafa Hasnaghina     Monday, May 11 2020

Harga Bitcoin menjadi perbincangan hangat dikalangan trader dan para analis karena kondisinya dalam beberapa hari ini mengalami tren turun, padahal halving akan terjadi sebentar lagi. Hal ini terlihat dari turunnya harga Bitcoin yang semula $10.000 ke pertengahan $8.000 hanya dalam sehari. Hal tersebut juga terlihat pada koreksi harga hingga 9% hanya dalam waktu satu jam. 

Menurut para pakar dan analis pasar, ada tiga kemungkinan yang menjadi alasan utama pemicu koreksi besar terhadap Bitcoin ini. Pertama, adanya area resistance multi-tahun yang kuat di atas $10.000, kedua adanya “Paus-paus” Bitcoin yang memasang short pada pasar melalui platform BitMEX, dan yang ketiga adanya volatilitas ekstrem menuju halving.

$10.200 hingga $10.500 adalah Area Resistance Kuat dari Tahun ke Tahun pada Bitcoin

Sejak pertengahan 2018, kisaran $10.200 hingga $10.500 berfungsi sebagai area resistance historis yang kuat pada tingkat atas cryptocurrency berdasarkan kapitalisasi pasar.

Setelah breakout pertama di atas $10.500 pada Juni 2019, yang mengarah ke $14.000, Bitcoin kala itu sulit bergerak ke atas sebanyak lima dari enam kali percobaan dalam waktu dua tahun terakhir.

Hal ini terlihat ketika harga Bitcoin tiba-tiba mogok di $10.100 pada 8 Mei kemarin. Situasi ini merupakan pertanda adanya penolakan tingkat kunci resistance dan membuat BTC rentan terhadap koreksi tajam.

Lebih lanjut, ketika “Paus-paus” mulai menjual pada harga $9.900. Tindakan yang dilakukan “Paus-paus” tersebut menyebabkan kaskade likuidasi kontrak long terutama pada BitMEX dan Binance Futures. Dalam satu jam, setara lebih dari $200 juta long telah dilikuidasi.

Baca juga: Melihat Dampak Bitcoin Halving Bagi Exchange dan Trader

“Paus” dengan Cepat Bergerak Menjual BTC pada Titik Penolakan

Hampir segera setelah penolakan dari $10.200 terkonfirmasi, “paus-paus” mulai dengan sengit memasang short pada Bitcoin di seluruh pertukaran mata uang digital utama.

Open interest di empat bursa derivatif besar yang mencakup Binance Futures, BitMEX, Deribit, dan OKEx mengalami kejatuhan. Istilah open interest ini mengacu pada jumlah total kontrak long dan short yang terbuka pada waktu-waktu tertentu.

Penurunan cepat dalam open interest ini mengartikan ketika tekanan aksi jual mulai berkembang, hal itu akan menyebabkan pembeli yang kelebihan leverage di pasar berjangka terperangkap dalam posisi mereka.

Tingkat pendanaan pada Bybit, Binance Futures, dan BitMEX tetap berada di sekitar -0,05%. Tingkat pendanaan negatif seperti itu terjadi ketika harga BTC turun, hal ini mengingat mayoritas pasar memegang kontrak short. Khawatir BTC turun lebih jauh lagi.

Dengan kata lain, banyak trader, terutama “Paus-paus”, bertaruh melawan BTC pada titik krisis reversal dari tren jangka panjang yang memicu penurunan tajam dalam waktu singkat.

Volatilitas Besar-Besaran Menjelang Halving

Menjelang peristiwa Bitcoin halving block rewards yang akan terjadi 12 Mei nanti, aktivitas trading pada semua platform cryptocurrency utama melonjak signifikan.

CME (Chicago Mercantile Exchange) memegang rekor open interest tertinggi, Deribit mencatat volume tertinggi sepanjang masa untuk kontrak opsinya, dan bursa spot menunjukan volume seperti sekitar tahun 2017-an dalam tiga minggu terakhir.

Ketika banyak investor baru memasuki pasar untuk mengatisipasi peristiwa besar ini, hal ini dikhawatirkan justru akan membuka pasar lebih pada aksi jual yang curam.

Misalnya, setelah halving blok rewards tahun 2016 silam, harga Bitcoin turun lebih dari 30%, karena trader bereaksi pada berita mengenai respon aksi jual.

Pertemuan rally Bitcoin yang over-extended untuk $10.000, seorang “Paus” yang merupakan investor ritel membuat aksi jual tajam pada $9.900, dan antisipasi yang tinggi terhadap halving memicu pullback jangka pendek sebelum halving 12 Mei 2020 nanti. 

Sumber