Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Laporan Consensys Sarankan Indonesia Terapkan Rupiah Digital

Wafa Hasnaghina     Saturday, October 3 2020

Munculnya cryptocurrency dan teknologi blockchain selama dekade terakhir telah membawa kemungkinan baru dalam penerbitan dan penggunaan uang serta bentuk baru aset digital dan pasar yang menarik. Bersamaan dengan perkembangan lingkungan geopolitik, ekonomi, dan sosial yang pesat, tumbuh juga kebutuhan dan standar baru untuk pembayaran digital dan alat tukar yang aman, dapat dipercaya, dan mudah digunakan. Salah satu standar baru yang belakangan ini mulai gencar diterapkan di berbagai negara adalah mengenai Central Bank Digital Currency (CBDC).

Untuk mengakselerasi adopsi CBDC di Indonesia, baru-baru ini Blocksphere Indonesia yang bermitra dengan Consensys menerbitkan kembali laporan tinjauan adopsi CBDC yang berjudul “Laporan Resmi Consensys: Bank Central dan Masa Depan Uang Digital”.

Laporan tersebut dapat diunduh di sini

Di dalam laporan disebut bahwa Indonesia disarankan menerapkan rupiah digital dalam konteks Central Bank Digital Currency (CBDC).

Rupiah digital yang berbasis teknologi blockchain itu kiranya dapat meningkatkan mutu tata kelola keuangan dan menjaga kedaulatan negara.

“Selain dua hal itu, Indonesia berpotensi mempercepat inovasi keuangan digital dengan menerapkan mata uang digital bank sentral (CBDC),” kata Gilang Bhagasakara Director of Blocksphere Indonesia.

Lanjut Gilang, sebagai sebuah negara kepulauan dengan geografi yang berkarakter desentralistik, Indonesia memiliki tantangan soal fragmentasi data di banyak sektor. Pun termasuk sektor keuangan, pembayaran dan peraturan ekonomi.

Dengan CBDC yang berteknologi blockchain, Indonesia dapat mempercepat proses bisnis keuangan negara, baik di bidang ritel, antar bank, maupun antar negara.

“Inovasi produk keuangan pun menjadi ringkas dan cepat berkat CBDC dan bisa menciptakan model bisnis baru yang menguntungkan bagi negara,” paparnya.

Pandu Sastrowardoyo, VP of Consulting Blocksphere Indonesia & Supervisory Board ABI menambahkan bahwa CBDC pada prinsipnya berperan sebagai pelindung terhadap kedaulatan mata uang.

“Dengan banyaknya penelitian, pengembangan dan penerapan mata uang digital akhir-akhir ini, baik yang dikelola oleh negara asing dan perusahaan swasta, legal maupun tidak, tentu ini adalah tantangan kompetitif terhadap rupiah. Ringkasnya, suka atau tidak, pengguna uang di Indonesia kini telah terekspos ke pengalaman pengguna mata uang digital, yang memiliki banyak kemudahan dan berdayajangkau internasional,” katanya.

CBDC juga dapat membantu tata kelola keuangan di Indonesia. Transparansi yang menjadi basis dari rancangan teknologi itu, serta fitur kontra-perubahan (anti-tampering), bisa memperbesar auditabilitas dan pelacakan keuangan di seluruh Indonesia.

Blocksphere adalah perusahaan teknologi informasi di Indonesia yang memiliki spesialisasi dalam pengembangan blockchain.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 2017 itu berpengalaman mengembangkan beragam solusi berbasis blockchain sejak teknologi itu mulai popular, di puluhan perusahaan berskala besar, baik nasional maupun mancanegara.

Di Indonesia, Blocksphere merupakan mitra strategis Consensys, perusahaan terkemuka asal AS di bidang blockchain. Consensys juga dikenal sebagai pencipta teknologi Hyperledger Besu, termasuk sebagai inisiator public blockchain, Ethereum.

Pada Agustus 2020, Consensys ini memperluas lingkup solusinya dengan membeli teknologi blockchain JPMorgan, Quorum. Dengan akuisisi teknologi ini, produk Hyperledger Besu kemudian bergabung ke dalam rumpun produk Consensys Quorum bersama GoQuorum.

Selain itu, Consensys dipercaya oleh banyak negara untuk mengembangkan solusi CBDC, termasuk yang terbaru di Hong Kong.

“Blocksphere siap menjadi mitra utama semua perusahaan di Indonesia dalam mengakses teknologi dan layanan Consensys. Khusus penerapan CBDC di Indonesia, Blocksphere siap bermitra dengan bank sentral,” pungkas Gilang.

Unduh dokumen laporan resmi CBDC di sini