Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Korea Pertimbangankan Proyek Blockchain Senilai 5,8 Triliun

Wafa Hasnaghina     Saturday, May 23 2020

Dalam upaya untuk mengejar ketertinggalan dengan pesatnya perkembangan teknologi blockchain di negara tetangga Tiongkok, Korea Selatan telah memulai strateginya sendiri dalam mengembangkan teknologi baru tersebut. 

Menurut laporan dari ZDNet Korea, Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Korea akan memutuskan pada akhir bulan ini apakah akan melanjutkan proyek pengembangan blockchain atau tidak. Dana senilai 480 miliar won, atau sekitar 5,8 Triliun Rupiah rencananya akan diinvestasikan dalam pengembangan teknologi untuk 5 tahun ke depan.

Jumlah tersebut akan digunakan pada perusahaan dan proyek yang lulus studi kelayakan awal kementerian atau yang disebut Yeta untuk kurun waktu 5 tahun ke depan. Yeta sendiri merupakan sistem yang dibuat oleh kementerian tersebut dalam memeriksa kebijakan dan kelayakan ekonomi dari proyek penelitian dan pengembangan baru di bidang teknologi blockchain.

Transisi Korea pada Data Ekonomi Berbasis Blockchain

Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Korea dan Institut Promosi Teknologi Informasi dan Komunikasi (IITP) memulai proyek ini pada November 2019 silam. Tujuan proyek ini untuk mengamankan teknologi blockchain yang dibutuhkan untuk mempersiapkan “transisi menuju data ekonomi” negara.

Laporan ini juga menyebutkan bahwa total 475,1 miliar won dibutuhkan untuk keperluan pengembangan dalam proyek dari tahun 2021 hingga 2025 ini. Proyek ini akan mencakup empat bidang yang berbeda, yaitu: pengembangan teknologi, komersialisasi, adopsi massal melalui program demonstrasi publik, dan dukungan untuk industri lokal.

Baca juga: Korea Selatan: Industri Blockchain sebagai Peluang Emas

Para ahli dan ketua industri di Korea percaya hal ini merupakan “waktu emas” bagi negara untuk memulai investasi dalam teknologi blockchain. Alasannya karena pasar masih relatif muda. Mereka percaya bahwa peluang terbaik Korea untuk tetap kompetitif adalah dengan memulai pendanaan ke dalam pembangunan negara.

Park Yong-beom, seorang profesor di Departemen Perangkat Lunak Universitas Dankook, berpendapat memang sulit untuk mengejar ketinggalan dengan perkembangan “teknologi utama” seiring berjalannya waktu.

“Untungnya, blockchain masih terbilang teknologi muda, jadi hal ini merupakan area di mana (Korea) memiliki kesempatan menunjukkan kepemimpinannya,” katanya kepada ZDNet.

Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi percaya blockchain akan menjadi teknologi dasar pada era “ekonomi data” Korea. Kementerian tersebut juga sedang mempromosikan proyek penelitian dan pengembangan nasional ini untuk memastikan sumber utama teknologi ini akan dikembangkan di negara tersebut.

Informasi selengkapnya dapat dilihat di sini