Kazakhstan Tutup Internet di Tengah Protes, Pengaruhi Harga Bitcoin

Rossetti Syarief

6th January, 2022

Kazakhstan dikenal sebagai negara terbesar kedua di dunia yang memiliki kecepatan tinggi dalam penambangan aset crypto terutama Bitcoin.

Berita buruk kemudian datang dari sejumlah laporan, yang mengatakan negara lintas benua Asia dan sebagian kecil Eropa tersebut kini alami kerusuhan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya karena kenaikan tajam pada harga bahan bakar. 

Akibatnya, sejumlah anggota pemerintahan memilih mengundurkan diri dan akses internet di sana juga ditutup. Aksi itu memberikan pukulan telak terhadap aktivitas penambangan Bitcoin di sana. 

Menurut data yang dikumpulkan oleh YCharts.com, hashrate yang dihasilkan Kazakhstan dalam jaringan Bitcoin telah turun 13,4%, dari sekitar 205.000 petahash per detik (PH/s) menjadi 177.330 PH/s dalam beberapa jam saja setelah penutupan internet.

Pemadaman Internet di Kazakhstan

NetBlocks selaku grup pemantau internet global mengkonfirmasi jika gangguan signifikan terhadap layanan internet di Kazakhstan di mulai sejak Selasa malam 4 Januari 2022, kemudian berlanjut ke pemadaman komunikasi skala nasional pada Rabu sorenya.

Kronologi pemadaman listrik dimulai ketika kerusuhan pecah akibat protes demo di barat Kazakhstan pada hari Minggu, setelah pemerintah setempat menghapus batas harga pada bahan bakar gas cair yang digunakan sebagai bahan bakar mobil untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar, yang menggandakan harga semalam. 

Kassym-Jomart Tokayev selaku Presiden Kazakhstan bertindak cepat dengan memberi pengumuman yang memastikan jika pemerintah sedang bekerja semaksimal mungkin untuk memulihkan harga bahan bakar agar lebih rendah. Namun sayang, masyarakat tidak mau mendengarkan dan terus melakukan aksi demo.

Pada saat penulisan, internet tetap tidak dapat diakses di Kazakhstan. Jika aksi ini diperpanjang konsekuensinya bisa lebih parah. Karena selain layanan internet, negara tersebut juga diharapkan akan menghasilkan lebih banyak aset Bitcoin.

Data Center Industry & Blockchain Association of Kazakhstan mengharapkan negara itu menghasilkan $1,5 miliar dari penambangan cryptocurrency legal dan $1,5 miliar lainnya dalam kegiatan terlarang selama lima tahun ke depan.

Harga energi yang rendah di negara itu juga telah menarik entitas domestik dan asing untuk mendirikan toko untuk penambangan Bitcoin.

Menurut Harga Bensin Global, biaya listrik di Kazakhstan rata-rata hanya $0,055 per kWh untuk bisnis, sebagian kecil dari $0,12 per kWh yang dibayarkan oleh bisnis AS.

Hashrate Turut Jadi Penyebab Harga Bitcoin Turun

Kazakhstan merupakan negara dengan jumlah pertambangan yang cukup banyak, utamanya setelah pemerintah Cina melarang mining Bitcoin.

Menurut Larry Cermak, Direktur Riset dan Analisis dari The Blok mengatakan pada laman Twitternya jika, padamnya internet di negara tersebut sangat berpengaruh pada hashrate Bitcoin.

Sementara hashrate di jaringan Bitcoin merupakan indikator utama yang menjadikan seberapa sehat jaringan tersebut, karena semakin tinggi hashrate sebuah jaringan, semakin bagus pula tingkat keamanannya. 

Artinya hashrate yang turun, maka keamanannya pun juga ikut terpengaruh. Pada akhirnya, jika hal ini terus terjadi dan tidak bisa diatasi akan banyak investor yang memilih keluar dari pasar, bisa menghentikan mining atau menjual banyak asetnya dan menyebabkan harga raja aset crypto ini turun.

Semenjak muncul berita ini, Bitcoin telah alami penurunan hingga 7% dalam 24 jam dan sempat diperdagangkan di bawah $43.000. Penurunan ini pun diprediksi masih akan terus terjadi.

Rossetti Syarief

Rossetti memiliki minat menulis sejak SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi, terutama yang berkaitan dengan investasi dan cryptocurrency.

Rossetti memiliki minat menulis sejak SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini sedang mendalami bidang ekonomi, terutama yang berkaitan dengan investasi dan cryptocurrency.