Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Lagi-lagi Soal Privasi, Isu Ketidakpercayaan Muncul Setelah Facebook Akuisisi Giphy

Wafa Hasnaghina     Tuesday, May 26 2020

Facebook kembali menjadi bahan perbincangan regulator AS terkait dengan ketidakpercayaan dan Anti-Monopoli pada perusahaan tersebut. Hal ini disebabkan karena raksasa jejaring sosial tersebut baru-baru ini mengakuisisi aplikasi foto terkemuka lainnya, bernama Giphy.

Peristiwa akuisisi antara Facebook dengan mesin pencari gambar dengan format GIF yang populer tersebut dikhawatirkan akan memiliki implikasi pada privasi data yang serius bagi para penggunanya.

Pada Jumat 15 Mei 2020 lalu, ada kabar yang mengatakan bahwa Facebook dalam proses mengakuisisi Giphy dengan nilai hingga mencapai $ 400 juta.

Basis data gambar dengan format GIF ini sudah terintegrasi ke dalam puluhan aplikasi populer, seperti Twitter, Signal, Slack, iMessage, Tinder, Tik Tok, Snapchat, dan seluruh rangkaian jejaring sosial Facebook. Namun, sepertinya langkah tersebut justru memicu kekhawatiran bahwa Facebook akan memperoleh kumpulan besar data lainnya, mengingat buruknya rekam jejak privasi pengguna pada Facebook.

Respon Publik pada Aksi Facebook Akuisisi Giphy

Kontroversi ini mengarah pada Giphy yang sebenarnya sudah mengumpulkan sejumlah besar data penggunanya, mungkin lebih dari yang disadari penggunanya, yang semuanya sekarang akan berada pada kuasa Facebook. 

Menurut pengembang dan kolumnis OneZero Owen Williams, pencarian melalui aplikasi Giphy “memungkinkan perusahaan untuk melacak bagaimana dan di mana gambar itu dibagikan, serta sentimen yang ada pada gambar tersebut.”

William berpendapat, untuk sebuah Aplikasi Pihak Ketiga, Giphy bahkan dapat melacak setiap penekanan tombol yang digunakan saat mencari melalui basis datanya. Semua aplikasi yang menggunakan Giphy diharuskan untuk memberikannya akses ke data tersebut yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pengguna pada seluruh aplikasi dan semua itu sekarang akan berada di tangan Facebook.

Akuisisi ini membuat banyak pengguna Giphy kesal, dan ratusan pengguna meberikan respon mereka di Twitter bahwa mereka akan menghapus Giphy dari perangkat mereka:

Facebook menanggapi respon tersebut pada 19 Mei lalu dengan mengatakan “data bukanlah motivasi” mereka untuk melakukan akuisisi tersebut. Namun, sepertinya langkah tersebut membuat beberapa anggota Kongres AS terganggu. Hal ini ditunjukkan dengan tanda-tanda semakin diperhatikannya perusahaan-perusahaan Big Tech dan pengaruhnya.

Adanya Monopoli Perusahaan Big Tech?

Akuisisi ini secara khusus telah menaikkan red flag (atau indikasi adanya sesuatu yang tidak biasa dan merupakan tanda-tanda terjadinya fraud) sejak Giphy yang awalnya bernilai $ 600 juta dalam putaran pendanaan terbarunya, diakuisisi dengan harga $400 juta. Hal ini berarti Giphy dijual dengan diskon besar-besaran di tengah krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus Corona ini.

Pada beberapa pekan lalu, mantan calon presiden AS Elizabeth Warren dan politisi lainnya mendukung kesepakatan Giphy ini:

“Akuisisi Facebook adalah contoh lain dari sebuah perusahaan raksasa yang menggunakan pandemi untuk mengkonsolidasikan kekuasaan lebih lanjut. Kali ini merupakan perusahaan dengan sejarah pelanggaran privasi yang mendapatkan perhatian besar untuk komunikasi online,” ujar seorang juru bicara Warren.

Dalam beberapa minggu terakhir, Warren dan Alexandria Ocasio-Cortez telah mendorong pengembangan “Pandemic Anti-Monopoly Act,” untuk menempatkan moratorium merger dan akuisisi sampai usaha kecil tidak lagi dalam kesulitan keuangan. Beberapa orang mengatakan, dengan krisis ekonomi yang membuat lemah perusahaan-perusahaan lama atau baru ini, gelombang M&A perusahaan akan datang.

Senator AS Richard Blumenthal sependapat dengan Warren, menyerukan para penegak anti-monopoli untuk “berdiri dan memastikan bahwa pandemi COVID-19 bukanlah sebuah kepura-puraan bagi perusahaan raksasa untuk memangsa para pejuang startup.”

Isu Ketidakpercayaan Meningkat, Desentralisasi Solusinya?

Sementara itu, pemberontakan yang dilakukan pengguna Giphy mengingatkan pada cara pengguna Keybase bereaksi terhadap pembelian perusahaan tersebut oleh Zoom pada dua minggu lalu. 

Seperti Facebook, Zoom juga menghadapi masalah mengenai privasi yang berasal dari penyalahgunaan data dan koneksi ke server Cina. Kekhawatiran mengenai privasi ini diperburuk karena pembatasan sosial selama pandemi virus Corona di seluruh dunia yang mendorong jutaan orang untuk menggunakan Zoom dan platform kerja-dari-rumah lainnya.

Ketika beberapa regulator mendorong pencacahan pada perusahaan Big Tech seperti Facebook, para pemimpin di ruang Web3 justru menyerukan alternatif yaitu desentralisasi untuk muncul dan mengambil peranannya.

Dua minggu lalu, Tyler Winkevoss, kapitalis ventura crypto yang dikenal karena rivalitasnya dengan Facebook di masa lalu, menyerukan pengusaha crypto untuk membangun jejaring sosial yang tidak dapat disensor, yang juga menyediakan alternatif layak bagi petahana Web2.

Untuk saat ini, sampai alternatif desentralisasi diterapkan pada kalangan pengguna, pertempuran atas data privasi pada platform-platform di internet mungkin baru akan dimulai.

Informasi selengkapnya dapat dilihat di sini