Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Harga Emas Makin Tinggi, Bagaimana dengan Bitcoin?

Wafa Hasnaghina     Wednesday, April 8 2020

Semakin banyak pakar keuangan berperan di belakang layar pada kenaikan harga emas saat kekacauan ekonomi terjadi. Kelebihan dan status safe-haven dari logam mulia ini selaras dengan kepercayaan populer mengenai keunggulannya di sebagian besar aset keuangan pada beberapa tahun ke depan.

Emas Mengungguli Semua Bidang

Sebenarnya peran Covid-19 sebagai sebab satu-satunya dalam jatuhnya sebagian besar pasar keuangan masih menjadi perdebatan. Di samping itu, terdapat fakta bahwa ekuitas, minyak, dan pasar cryptocurrency merosot tajam dalam sebulan terakhir. Meskipun ada beberapa tanda pemulihan, para ekonom dan pakar terkenal dunia berkumpul untuk memprediksi hari “kiamat” yang masih menjadi bayang-bayang ekonomi global.

Di tengah semua kekacauan ini, muncul emas dengan keberadaannya selama ribuan tahun telah mendapatkan status sebagai tempat berlindung yang aman ketika datang masa dengan banyak ketidakpastian. Seperti yang dikatakan oleh investor komoditas, Jim Rogers, “Setiap kali orang kehilangan kepercayaannya terhadap uang dan pemerintah, mereka selalu kembali membeli emas dan perak.”

Mengenai itu, sejarah mengikuti hingga hari ini. Selama krisis keuangan terakhir pada tahun 2008, logam mulia pada awalnya turun (seperti sekarang) ketika investor panik menjual aset mereka, tetapi akhirnya melonjak dan mencapai posisi tertinggi baru.

Bukan sebaliknya, kali ini peran logam mulia berperan lebih penting. Paket-paket stimulus besar yang datang dari pemerintah mendorong emas menjadi sebuah kebutuhan, menurut Roy Sebag, CEO dan Pendiri Goldmoney Inc.

“Bank Sentral secara resmi kehilangan kendali terhadap kebijakan mereka yang paling kuat. Hal itu menentang perubahan mendasar makroekonomi. Emas akan berkembang sebagai alat tukar yang lebih baik daripada jenis lain.”

Ekonom terkenal dan gold-bull AS, Peter Schiff setuju dengan masalah ini. Schiff percaya bahwa satu-satunya pilihan bagi AS untuk menghindari hiperinflasi adalah mengembalikan standar emas, memberikan peringatan tentang “ada banyak lagi malapetaka yang akan terjadi”.

Baca juga: Cara Bitcoin Bergerak Lebih Kuat Setelah Krisis Ekonomi

Lalu Bagaimana dengan Emas Digital?

Semua peristiwa yang dijabarkan di atas dapat mengangkat pembahasan mengenai emas digital, Bitcoin. Bitcoin memiliki beberapa kemiripan dengan logam mulia. Misalnya, keduanya langka dan tidak dijalankan oleh otoritas pusat.

Walau Bitcoin telah menjadi aset digital utama, tetapi dirinya belum bisa membuktikan kemampuannya selama krisis keuangan. Hal ini disebabkan karena umurnya yang masih terbilang muda, kurang berpengalaman, dan harganya masih terlalu fluktuatif. 

Meski demikian, Bitcoin telah menunjukkan tanda-tanda substansial berhadapan dengan emas fisik dalam hal lindung nilai.

Bitcoin juga memiliki beberapa kelebihan dibanding emas. Bitcoin dilakukan secara digital, itu artinya walau terjadi lockdown pada wilayah secara nasional, hal tersebut tidak dapat menghentikan distribusi Bitcoin.

 Bitcoin adalah sistem keuangan elektronik peer-to-peer. Sehingga para investor tidak perlu khawatir mengenai adanya biaya transportasi fisik.

Selama seseorang memiliki akses internet, ia dapat dengan mudah mengirim atau menerima dana dalam hitungan menit. Serta, biaya yang murah dalam bertransasksi. Baru-baru ini bahkan ada yang mengirimkan $633 Juta dengan biaya hanya $0,26.

Atau, alih-alih berdebat mana yang lebih baik, investor bisa mengikuti sarat Robert Kiyosaki, penulis “Rich Dad, Poor Dad” yang mendesak orang-orang untuk segera menghindari fiat dan fokus pada penyelamatan kedua aset, emas dan Bitcoin.

Sumber