Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Fitur Flash Loan Dieksploitasi, Compound Rugi Rp1,4 Triliun!

Wafa Hasnaghina     Sunday, November 29 2020

Pemberi pinjaman protokol DeFi Compound (COMP) menjadi korban eksploitas fitur flash loan dan merugi hingga Rp1,4 Triliun.

Menurut penyedia analisis pinjaman DeFi LoanScan, sekitar lebih dari Rp1,4 Triliun dilikuidasi dari protokol Compound.

Baca juga: Apa itu Compound? Panduan untuk Pemula!

Berdasarkan cuitan pada 26 November, Julien Bouteloup menunjuk volume likuidasi besar-besaran di Compound karena kesalahan dari peg data dolar Dai (DAI) yang dipasok oleh Coinbase oracle.

Data dari TradingView mengindikasikan patokan dolar DAI di Coinbase naik menjadi Rp18ribu, 34% lebih tinggi dari nilai asil stablecoin tersebut. Jika melihat hasil investigasi seluruh pasar, harga DAI yang bermasalah hanya terjadi pada bursa pertukaran Coinbase.

Secara keseluruhan, deviasi peg DAI ini diperkirakan berlangsung antara pukul 7:45 hingga 20:55 waktu setempat. Pada puncak kejadiaan, DAI berada di kisaran harga Rp18ribu dpada Coinbase selama empat menit penuh.

Lantaran umpan harga yang salah dari Coinbase oracle, beberapa pengguna Compound menjadi under-collateralize. Berdasarkan aturan protokol yang sudah ada, ini berarti likuidasi paksa atas posisi mereka. Farmer COMP besar yang terdampak bahkan mengalami kerugian hingga 49 juta USD dalam kejadian ini.

Serangan pada Protokol DeFi Compound

Trader DeFi Sam Priestley mengidentifikasi korban sebagai farmer COMP yang menggunakan leverage dalam menyimpan simpanan DAI dan USDC pada wallet terpisah.

Dengan demikian, pelaku mendapatkan keuntungan setara dengan Rp52 miliar hanya untuk proses ini. 

Singkatnya, pelaku melakukan flash loan 46 juta DAI dan menukarnya dengan 2,4 miliar cDAI dan kembali mengubahkan dan menghasilkan 46,2 juta DAI. 

Penyerang kemudian melunasi pinjaman flash loan sebesar 46 juta DAI dan mendapat keuntungan setara Rp52 miliar. 

Dalam cuitan Alex Svanevik, CEO analis data on-chain Nansen, farmer lainnya mengalami kerugian setara Rp246 miliar dari eksploitasi ini. 

Informasi ini dapat dibaca kembali di sini