Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Dua Skema Ponzi Ini Jadi Pengguna Gas Terbanyak di Ethereum

Wafa Hasnaghina     Tuesday, September 22 2020

Lalu lintas di dalam jaringan Ethereum semakin padat, hal ini semakin diperparah dengan beroperasinya beberapa skema ponzi yang memakan lebih banyak gas, membuat kemacetan jaringan semakin parah yang berakibat pada naiknya biaya gas Ethereum.

Jika dilihat dari data menurut situs ETH Gas Station, Uniswap dan Tether berada di peringkat teratas dengan mengonsumsi lebih dari 25%-30% lebih banyak dibandingkan 25 konsumen on-chain teratas lainnya.

Skema ponzi, Forsage, menyusul di peringkat ketiga. Skema ponzi baru “Contribute” juga menyusul di peringkat keempat. 

Baca juga: Waspada Forsage! Skema Ponzi Berbasi Ethereum

Skema Ponzi Baru di Ethereum

Contribute dengan token tata kelolanya TRIB masuk sebagai skema ponzi baru di Ethereum. Proyek ini menggambarkan dirinya sebagai “model koordinasi terdesentralisasi” dengan memberikan insentif kepada investor awal untuk mendapatkan lebih banyak token TRIB, jika dilihat dari white paper protokol tersebut. 

Tidak ada informasi mengenai komposisi Liquidity Providers (LP) yang dipublikasikan. Selain itu, detail terkait dengan penciptanya Kento Sadim tidak bisa diakses secara online. Terlepas dari tidak adanya detail apapun terkait pendiri platform tersebut, ada indikator lain yang semakin menyudutkan platform ini sebagai skema ponzi baru. Misalnya saja, “harga dasar” dari token tersebut.

Seperti fungsi “RegistrationExt” pada skema ponzi Forsage yang digunakan untuk merujuk pengguna lain untuk mendaftar, smart contract yang digunakan untuk mengklaim token TRIB di Contribute juga menggunakan proses komputasi tersebut. Ditambah hal ini menghabiskan banyak bahan bakar di Ethereum. 

Sebagai perbandingan, smart contract TRIB menghabiskan lebih banyak bahan bakar daripada transaksi kompleks lainnya, seperti yang dilakukan oleh Chainlink dan 1inch.exchange. 

Preston Byrne, seorang pengacara di Anderson Kill Law, menyatakan Contribute dapat menghadapi dakwaan dari Securities Exchange Commission dengan “hukum terkait penipuan dengan hukuman penjara”.

Skema ponzi ini jelas menghalangi pertumbuhan ruang DeFi dan menodai reputasi industri mata uang crypto secara keseluruhan.

Transaksi Memakan Waktu dan Biaya Gas Lebih Mahal

Seperti yang terlihat, Ethereum telah mencapai batas kapasitasnya. Jika beberapa bulan lalu transaksi Ethereum bisa dilakukan dengan hanya memakan waktu beberapa menit, sekarang ini transaksi bisa menghabiskan hampir satu jam penuh hanya untuk satu transaksi. Efeknya hanya “paus” yang bisa menggunakan dan memproses transaksi dengan lebih cepat. 

Meskipun demikian, ETH tetap menjadi pilihan utama terkait dengan pembangunan platform berbasis DeFi karena terdapat standar token ERC-20 yang penyebarannya sangat luas. Ditambah kemampuan integrasi yang mudah ke banyak protokol blockchain lainnya. Bukan hanya faktor tersebut, perilisan USDT di jaringan ETH juga membuat jaringan tersebut sekarang digunakan di banyak aplikasi keuangan lainnya.

Faktor-faktor tersebut tentunya memberikan persoalan tersendiri terhadap pertumbuhan jaringan Ethereum. Terlebih banyak orang yang terus menunggu teknologi scaling pada jaringan ini.

Informasi ini dapat dibaca kembali di sini