Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Tak Suka dengan Regulasi Crypto di AS, Perusahaan Ripple Ngambek

febrian surya     Monday, October 26 2020

Dalam sebuah wawancara, CEO Ripple Brad Garlinghouse menyuarakan ketidaksukaannya terhadap regulasi crypto di AS. Bahkan, hal ini membuat perusahaan yang dipimpinnya mempertimbangkan untuk melakukan aksi korporasi untuk meninggalkan Amerika Serikat untuk pindah ke negara lainnya.

CEO Ripple Sudah Menetapkan ke Negara Mana yang Ingin Dituju

Garlinghouse mengindikasi bahwa perusahaan dapat segera pindah ke Asia karena regulasi crypto di AS dianggap kurang olehnya.

Dalam wawancara bersama Bloomberg, Garlinghouse sudah menetapkan Singapura dan Jepang sebagai pelabuhan perusahaannya bila meninggalkan Amerika Serikat. Di mana, di kedua negara Asia tersebut akan menjadi kantor pusat Ripple. Selain kedua opsi itu, Ripple juga dikabarkan akan mempertimbangkan hijrah ke Swiss, Inggris, dan UEA sebagai tempat tujuan yang dianggap potensial.

“Negara-negara yang disebutkan ini, pemerintah mereka di sana telah menciptakan kejelasan tentang bagaimana mereka akan mengatur aset digital yang berbeda,” ungkap Garlinghouse.

Menurut Garlinghouse, regulator crypto di AS ragu-ragu mengenai posisi aset digital mereka. Sehingga, menyulitkan bagi perusahaan Ripple untuk beroperasi di sana bahwa “peraturan seharusnya bukan menjadi permainan tebak-tebakan” karena regulator belum bisa mengetahui apakah crypto itu termasuk komoditas, mata uang, properti, atau sekuritas.

Sebaliknya, negara-negara seperti Jepang dan Singapura sudah menunjukkan sikap yang jelas terhadap cryptocurrency di negaranya selama bertahun-tahun.

Alasan Rencana Hijrah Ripple dari Amerika Serikat

Ripple adalah perusahaan teknologi keuangan besar yang berbasis di San Fransisco, yang menyediakan layanan pembayaran lintas batas untuk berbagai mitra keuangan. Dan juga mengembangkan XRP untuk trading, pembayaran, dan investasi.

Namun, sayangnya XRP Ripple sedang dalam peninjauan dari peraturan undang-undang sekuritas di Amerika Serikat dan berpotensi melanggarnya. Saat ini, Ripple sedang menjalani gugatan dan persidangan di California.

Jepang Menjadi Negara Terdepan Sebagai Kantor Pusat Ripple yang Baru

Menurut Financial Instrument and Exchange Act, di Jepang mata uang virtual tidak diklasifikasikan sebagai sekuritas berdasarkan hukum di sana. Cryptocurrency di Jepang sudah legal sebagai pembayaran sejak 2017 silam setelah melakukan amandemen dalam Undang-Undang Layanan Pembayaran.

Selain itu, jepang juga memiliki kedekatan dengan Ripple lewat jaringan koneksinya melalui SBI Holdings, di mana petinggi dari perusahaan ini merupakan anggota dewan direksi di Ripple yakni Yoshikata Kitao.

“Jepang adalah salah satu pasar kami yang tumbuh cepat, karena sebagian mitra kami berada di sini seperti SBI Holdings. Saya telah berbicara dengan tim SBI tentang fakta yang kita lihat,” pungkas Garling House kepada Bloomberg.

Belum lagi ditambah, XRP merupakan salah satu cryptocurrency yang paling disayang di Jepang. Menurut survei Bitmax, warga Jepang memiliki lebih banyak XRP dibanding ETH.

Sumber