Bank of England: Stablecoin Tidak Timbulkan Masalah Baru

Anisa Giovanny

13th June, 2021

Stablecoin adalah aset crypto yang dipatok dengan aset lainnya, biasanya dipatok dengan aset fisik seperti mata uang fiat sebuah negara. Stabelcoin yang mengacu dengan mata uang fiat memiliki rasio 1:1, stablecoin yang paling terkenal adalah USDT.

Stablecoin ini telah memicu berbagai kontroversi terutama di kalangan para bankir sentral, regulator, dan anggota parlemen, kontroversi semakin meningkat setelah upaya berulang-ulang Facebook untuk meluncurkan stablecoin yang dirancang untuk diluncurkan di berbagai platform media.

Namun lambat laun para regulator pun melunak dengan stablecoin sambil tetap mengkaji beragam risiko yang mungkin ditimbulkan. Dalam Konferensi Kebijakan eForum Westminster oleh Christina Segal-Knowles, direktur eksekutif dari Direktorat Infrastruktur Pasar Keuangan Bank of England pun memberikan pendapatnya seputar stablecoin dan turut meredam kekhawatiran soal aset ini.

Segal Knowles berpendapat bahwa regulator keuangan tahu betul apa yang diperlukan untuk memastikan bahwa uang pribadi aman dan cukup stabil untuk penggunaan publik.

Stablecoin tidak meluncurkan kita ke dunia baru, kuncinya di sini adalah untuk memastikan bahwa hanya karena sesuatu dikemas dalam teknologi mengkilap, kita entah bagaimana memperlakukan risiko yang ditimbulkan secara berbeda,” katanya.

Ide Stablecoin Inovatif dan Mencolok

Ia mengakui bahwa ide stablecoin “terasa inovatif dan mencolok” dan mengaitkannya dengan penyederhanaan dalam budaya populer tentang bagaimana uang bekerja dan dalam bentuk apa sudah ada di masa sekarang. Dalam kebanyakan kasus, kebanyakan orang sebenarnya jarang menggunakan uang publik dari bank sentral seperti Bank of England, melainkan IOU pribadi dari bank komersial.

Segal-Knowles mencatat, “sembilan puluh lima persen dari dana yang dimiliki rumah tangga dan bisnis yang biasanya digunakan untuk melakukan pembayaran sekarang disimpan sebagai deposito bank komersial daripada uang tunai, ia juga menyoroti selama pandemi penggunaan uang tunai pun berkurang.

Faktanya, temuan menunjukkan bahwa implikasinya dalam jangka panjang terhadap kemampuan rumah tangga dan bisnis untuk mendapatkan pinjaman relatif kecil,” katanya, meskipun dia mengakui ada beberapa ketidakpastian tentang hal itu.

Menurutnya Stablecoin tidak menimbulkan masalah baru, karena pada dasarnya mereka mirip dengan bentuk tradisional uang pribadi yang disimpan oleh konsumen dan bisnis di bank komersial. Aset ini mirip dengan bentuk tradisional uang pribadi yang disimpan oleh konsumen dan bisnis di bank komersial.

“Ini berarti bahwa kami akan menerapkannya pada standar yang serupa dengan yang berlaku untuk uang pribadi yang ada. Tidak peduli jenis teknologi apa yang Anda gunakan atau bentuk hukum perusahaan,” jelasnya.

Namun perlu dingat, meski risiko dan masalah yang ditimbulkan oleh stablecoin ini tidak baru secara fundamental” namun tetap ada tantangan dengan aset ini, terutama dalam segi risiko dan aturan yang perlu dibentuk agar penggunaan bisa lakukan dengan aman dengan regulasi yang matang dan dterima dalam skala luas.

Dalam pidato baru-baru ini yang didedikasikan untuk masalah yang sama, Deputi Gubernur Bank of England Si Jon Cunliffe mengambil taktik yang sedikit berbeda. Cunliffe melangkah lebih jauh dengan menyarankan bahwa perkembangan yang didorong oleh teknologi dan pergeseran dalam penggunaan berbagai bentuk uang, termasuk uang pribadi non-bank, dapat membuat akses umum ke bentuk digital uang bank sentral menjadi penting untuk memastikan stabilitas keuangan di masa depan.

Anisa Giovanny

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency

Anisa tertarik dengan dunia tulis menulis dan copyediting sejak bangku SMA dan diperdalam di dunia perkuliahan. Saat ini tertarik dan tengah mendalami bidang ekonomi terutama terkait investasi dan cryptocurrency