Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Analis: Korelasi Bitcoin dan S&P 500 Bukan Hal Buruk

Wafa Hasnaghina     Tuesday, June 23 2020

Salah satu narasi paling umum dalam ruang Bitcoin adalah ia sepenuhnya tidak berkorelasi dengan pasar keuangan lainnya. Penyebabnya adalah karena cryptocurrency sebagian besar terpisah dari tren ekonomi normal, dan hal ini yang membuatnya mudah bagi banyak orang untuk berpikir bahwa Bitcoin tidak terpengaruh oleh, katakanlah, resesi.

Namun, selama beberapa bulan terakhir, narasi tersebut sepertinya harus diamati kembali.

Pada bulan Maret dan April lalu, BTC dan S&P 500 diperdagangkan dengan korelasi yang sangat erat. Setiap kali pasar saham akan rally, begitu juga BTC, ditambah lagi dengan adanya aksi harga yang berkorelasi dari menit ke menit yang membuat kekhawatiran.

Banyak yang melihat Bitcoin akan menghadapi bearish, karena salah satu karakteristik yang mengatakan Bitcoin “tidak berkorelasi” menampakan kenyataan sebaliknya. Namun, sebenarnya itu mungkin hal yang baik. Inilah sebabnya.

Baca juga: Analis: Harga Bitcoin Terkait Erat dengan Saham Big Tech AS

Hubungan Antara Bitcoin Dan S&P 500 Tidak Sepenuhnya Buruk

Korelasi Bitcoin dengan ekuitas sekali lagi terlihat tidak berkorelasi pada sebagian besar bulan Mei dan paruh pertama Juni ini.

Manajer aset digital Charles Edwards baru-baru ini mencatat: “Bitcoin dan korelasinya dengan saham pada tahun 2020. Kami (sayangnya) telah “menggabungkan korelasi mereka kembali” pada 10 Juni ini. Korelasi tertinggi sepanjang masa. Perhatikan trennya? Tingkat ketakutan dan ketidakpastian yang tinggi (mis. VIX) = tingkat korelasi yang tinggi. ”

Ini tidak sepenuhnya buruk, seperti dicatat oleh seorang analis.

Analis Pseudonymous “PlanB” baru-baru ini mengatakan bahwa Bitcoin memiliki korelasi sebanyak 95% (R squared) dan terkointegrasi dengan S&P 500, yang berarti bahwa BTC adalah “bukan aset yang tidak berkorelasi.”

Namun dia mencatat bahwa dengan Federal Reserve mendukung saham melalui jumlah stimulus moneter yang tercatat, BTC akan diuntungkan:

“Ya, FED mencoba menghentikan QE pada November 2018, efeknya pada S&P dan BTC juga sama buruknya. FED tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi. IMO tidak ada jalan untuk kembali, itu adalah QEternity,” tulis analis dengan mengacu pada kebijakan terbaru Federal Reserve.

Baca juga: Triliunan Dicetak AS, Bitcoin jadi Lindung Nilai?

Lebih Banyak Potensi dari Saham 

Meskipun Bitcoin dapat mengikuti tren S&P 500 dan pasar lainnya, itu tidak berarti bahwa sisi positif BTC terbatas pada ekuitas. 

Paul Tudor Jones, seorang investor miliarder yang secara luas dianggap sebagai salah satu analis makro terbaik dunia, menulis dalam catatan penelitian bulan Mei lalu bahwa Bitcoin adalah “kuda tercepat dalam perlombaan” jika dibandingkan dengan emas, ekuitas, obligasi, dan kelas aset lainnya.

Jones mengutip kelangkaan 21 juta koin Bitcoin sebagai alasan utama mengapa cryptocurrency dapat membuat harga jauh lebih cepat daripada kelas aset lainnya.

Raoul Pal menunjukkan optimismenya.

Mantan eksekutif Goldman Sachs juga mengatakan kepada podcaster Bitcoin, dia menduga BTC akan menjadi aset dengan kinerja terbaik di tahun 2020-an, sama seperti dekade terakhir. Dia mengaitkan sentimen ini dengan pendapatnya bahwa dibandingkan dengan cryptocurrency lain, ekuitas, obligasi, dan real estat dinilai terlalu tinggi pada perspektif jangka panjang.

Informasi ini dapat dibaca kembali di sini