69.000 Bitcoin Hilang Diretas, Ini Penjelasan Pihak Bersangkutan

Naufal Muhammad

24th June, 2021

Dikabarkan bahwa 69.000 Bitcoin telah hilang dalam aksi peretasan yang melibatkan salah satu perusahaan crypto terbesar di Afrika, AfriCrypt.

Kasus ini menjadi salah satu perhatian utama pasar saat ini akibat kehilangan yang cukup besar dengan asal-usul yang kurang jelas.

Banyak pihak yang menduga kejadian ini adalah hasil peretasan, namun ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa kejadian ini adalah hasil penipuan.

69.000 Bitcoin Hilang Akibat AfriCrypt

Sekitar 69.000 Bitcoin dikabarkan hilang dari perusahaan investasi AfriCrypt bersama dua saudara yang mengelola perusahaan tersebut.

Dikabarkan bahwa kejadian ini adalah hasil dari peretasan, namun banyak pihak yang mulai curiga terhadap AfriCrypt.

Walau masih belum ada klarifikasi dan kejelasan dari pengadilan, terdapat dugaan bahwa kejadian ini adalah hasil penipuan dan bukan peretasan.

Jika merupakan sebuah aksi penipuan, penipuan tersebut akan menjadi penipuan terbesar dalam sejarah, menurut data dari Bloomberg.

Terdapat beberapa tanda yang mengkhawatirkan sebelum kehilangan ini terjadi, salah satunya adalah skema keuntungan perusahaan tersebut.

Tercatat bahwa AfriCrypt menjanjikan para pengguna jasanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar 10% per hari, angka yang cukup besar untuk perusahaan investasi.

AfriCrypt sendiri mengabarkan bahwa perusahaannya telah menghasilkan 54 Miliar Rand atau 54,84 Triliun Rupiah sebelum mengabarkan peretasan kepada investornya.

Perusahaan ini mengatakan bahwa mereka akan menghentikan kegiatan operasional akibat dalam proses upaya mendapatkan dananya kembali.

Pihak Hukum Telah Turun Tangan

Nampaknya kasus ini juga telah menarik perhatian pihak berwenang dan pihak legal dengan salah satunya adalah perusahaan hukum bernama Hanekom Attorneys.

Perusahaan tersebut saat ini mewakili para pengguna yang mengalami kerugian dan menyatakan bahwa terdapat suatu hal yang mencurigakan dari kejadian ini.

Perusahaan hukum ini menyatakan bahwa kejadian peretasan ini adalah penipuan akibat adanya beberapa tanda yang membuat keraguan.

Salah satu tanda tersebut adalah hilangnya akses karyawan terhadap platform AfriCrypt tujuh hari sebelum terjadi “peretasan”.

Hanekom Attorneys menuduh bahwa dua saudara  pengelola perusahaan telah memindahkan 69.000 Bitcoin dari AfriCrypt ke beberapa tujuan untuk membuat dana tidak  bisa dilacak.

Tuduhan ini menjadi semakin kuat dengan dua pihak pengelola yang saat ini tidak bisa dihubungi sama sekali saat AfriCrypt jatuh.

Pengadilan telah memberikan perintah kepada kedua pihak pengelola AfriCrypt untuk mulai melikuidasikan seluruh dana investor.

Mereka memiliki waktu hingga 29 Juli 2021 untuk menanggapi permintaan tersebut, dan hingga saat ini masih belum ada tanggapan.  

Semua kasus ini berawal dari cara pemasaran AfriCrypt yang menawarkan keuntungan 10% per hari kepada investornya.

Cara tersebut adalah salah satu cara yang cukup berbahaya akibat keuntungan tersebut tergolong cukup tinggi, bahkan untuk perusahaan investasi.

Kasus semacam ini juga masih sering terjadi terutama di Indonesia dengan jasa “titip dana”. Sehingga perlu kewaspadaan yang tinggi jika berhadapan dengan jasa pengelola atau investasi.

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.