Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Mengenal Chia Network yang Diprediksi Jadi Penerus Bitcoin

anisa giovanny     Tuesday, April 6 2021

Bitcoin jadi proyek yang luar biasa bagi dunia kripto, kehadirannya mampu memicu kelahiran aset-aset crypto lainnya.

Apakah ada proyek yang mampu menyaingi kepopuleran Bitcoin atau paling tidak setara? Hingga kini rasanya belum ada, namun akhir-akhir ini muncul sebuah nama yang disinyalir akan lebih baik dari Bitcoin, ia bernama Chia Network.

Tapi apa itu Chia Network? Selengkapnya akan terjawab di artikel berikut ini.

Mengenal Chia Network

Proyek ini mungkin masih asing di telinga para penggemar crypto di Indonesia. Di berbagai portal crypto dunia pun nama ini masih belum familiar. Hanya segelintir pihak yang pernah mendengar namanya.

Chia Network pada dasarnya sudah dikembangkan sejak 2017, namun karena kala itu masih dalam proses pengembangan pihak Chia Network pun belum santer mempromosikan proyek ini. Dengan proses pengembangan yang makin matang, nama proyek ini pun semakin naik dan muncul ke permukaan.

Pendiri dari Chia Network sendiri adalah Bram Cohen yang juga pendiri dari Bittorent, dengan tokenny BTT yang tengah meroket. 

Baca juga: BTT Naik 30% Lebih Membentuk Harga Tertinggi Baru, Ini Penyebabnya

Proyek ini juga didukung oleh tujuh investor utama, beberapa diantaranya adalah Galaxy Investment Group, Slow Ventures, dan Greylock Partners.

Tujuan chia adalah menciptakan suatu blockchain yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Chia Network pun  menggunakan blockchain dengan konsep baru. Founder Chia diketahui ingin menciptakan blockchain yang lebih efisien dalam segala aspek, termasuk hemat energi, lebih aman, lebih terdesentralisasi, dan secara keseluruhan lebih baik.

Transaksi dalam Chia akan menggunakan bahasa programming sendiri yaitu Chialisp. Bahasa ini dianggap sebagai bahasa pemrograman yang lebih aman dan lebih transaparan karena mudah di audit.

Baca juga: Masih Untungkah Mining Bitcoin di 2021 ?

Blockchain dari proyek ini sendiri akan menggunakan konsep baru yang  sama dengan konsep Bitcoin. Inilah yang membuat Chia digadang mampu menyaingi Bitcoin di masa depan, karena konsepnya sama namun dengan jaringan yang lebih baik.

Proyek ini pun memiliki keunikan karena menggunakan mekanisme Proof of  Space and Time yang dibuat oleh Bram Cohen. Mekanisme ini akan membuat Chia ramah lingkungan karena hemat energi.

Chia diketahui sudah meluncurkan mainnet pada 19 Maret 2021, namun belum mengadakan penjualan token. Tokennya Chia yang bernama XCH hingga saat ini baru bisa didapatkan lewat proses mining.

Ini mirip dengan Bitcoin yang pada awalnya hanya bisa didapatkan dengan proses menambang sebelum akhirnya di jual di berbagai bursa.

Proses mining Chia diketahui mudah dan tidak perlu menggunakan mining rig dan bisa dilakukan di CPU komputer biasa hanya saja perlu menyediakan penyimpanan yang cukup.

Cara Mining Chia

Cara kerja dari mekanisme ini adalah para miner perlu mengalokasikan hard drive atau memori di komputer pribadinya sebagai tempat storage atau penyimpanan data.

Kemudian install software yang sudah disediakan di website Chia.net. Kemudian imbalannya akan diberikan XCH dengan melihat seberapa besar penyimpanan.

Setelah itu miner tinggal menunggu imbal hasil berupa XCH yang ditentukan dari seberapa besar alokasi yang penambang berikan dibandingkan keseluruhan jaringan.

Chia menargetkan beberapa hal yang lagi berkembang sekarang untuk diadopsi ke blockchainnya. Di antaranya adalah mata uang digital bank sentral, sistem pembayaran institusi keuangan, sistem pembayaran perusahaan global,  Adopsi ke bursa terdesentralisasi atau DeX dan ke Sektor Decentraized Finance (DeFi), dan bahkan sistem pembayaran lintas negara.

“ Chia berharap bisa mengadopsi alat pembayaran mainstream untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari contohnya seperti GrabPay, kata Bram Cohen dilansir dari situs Chia.

Artikel Terkait

 Lihat Lebih