Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Apakah Blockchain Jawaban untuk Industri Kesehatan yang Lebih Baik?

Aulia Medina     Tuesday, November 6 2018

Pelanggaran data adalah mimpi buruk bagi tiap industri besar. Ketika terjadi, akibatnya bisa buruk sekali. Menurut studi global yang dilakukan oleh IBM dan Institut Ponemon, pada 2017 kerugian pelanggaran data yang terjadi di perusahaan besar mencapai $3,62 juta.

Industri kesehatan mengalami kerugian terbesar dalam hal pelanggaran data, sekitar $380 tiap rekam medis pasien yang hilang. Ini berarti 2,5 kali lebih besar dari rata-rata global di industri lainnya.

Isu besar lainnya yang terkait kesehatan merupakan industri yang diatur dalam hal privasi, untuk alasan yang bagus. Informasi kesehatan personal, bersama dengan data lainnya (tanggal lahir, nomer induk kependudukan, data pembayaran, dan sebagainya) menjadi beberapa informasi yang sangat dilindungi, seperti yang diungkapkan oleh Jack Liu, CEO dari ALLIVE, sebuah ekosistem kecerdasan kesehatan (intelligent healthcare) berbasis teknologi blockchain yang menyediakan profil kesehatan terenkripsi, dokter AI personal, dan layanan kesehatan yang komprehensif.

Antara Aksesibilitas dan Keamanan

Pasien dapat mengambil lebih banyak kendali akan kebutuhan kesehatan mereka, dan industri merespon dengan pengaturan sistem database (EHR/EMR) yang menyimpan rekam kesehatan individu. Pasien bisa mengakses data mereka yang disimpan oleh penyedia kesehatan dengan username dan password. Selain itu, terdapat Olife, satu dari tiga komponen ALLIVE, yang memberikan pasien kendali akan data kesehatan mereka dengan mengenkripsi dan menyimpannya dalam blockchain. Transparansi ini merupakan satu hal yang baik.

Di saat yang sama, penyedia kesehatan ingin bisa membagi informasi pasien individu di antara mereka ketika dibutuhkan, misalnya ketika seorang pasien ditransfer ke institusi kesehatan lainnya. Untuk ini, pemerintah AS telah menyediakan sekitar $1.2 miliar untuk mendanai penyedia kesehatan yang bekerja dengan rekam pasien yang terkonsolidasi, sehingga terdapat satu dokumen yang bisa diakses semua pihak terkait. Kondisi ini efisien dan memastikan tidak ada kondisi, obat-obatan, dan sebagainya yang diabaikan sebagai protokol pengobatan.

Namun dengan semua konsolidasi dan penyimpanan dalam dunia maya, muncul ancaman pelanggaran. Dan industri kesehatan harus melihat metode inovatif yang lebih aman, baik untuk penyimpanan maupun transmisi. Jawabannya akan merujuk pada teknologi blockchain.

Baca juga artikel ini: Pemerintah Thailand Mempertimbangkan Solusi Blockchain

Harapan dari blockchain untuk industri kesehatan

Ketika banyak yang menghubungkan teknologi blockchain dengan cryptocurrency, penggunaan blockchain untuk banyak industri saat ini tengah dieksplorasi dan dijalankan. Mengapa? Karena informasi dan data yang disimpan dalam block yang kekal tidak bisa diubah dan diakses tanpa kode kunci yang tersedia bagi mereka yang memiliki akses pada data.

Keterlibatannya bagi industri kesehatan sangat jelas. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana blockchain bisa meningkatkan keamanan data.

1. Rekam pasien yang bisa dilacak dan bersifat tetap

Menurut Liu, “Jika rekam pasien tersimpan dalam sistem berbasis blockchain, mereka akan aman dan tidak bisa diubah. Pasien bisa memberikan akses pada penyedia kesehatan untuk mengakses rekam medis dan membuat rekam baru dalam block yang akan menjadi bagian dari rekam permanen pasien tersebut.”

Ini semua berarti bahwa tidak perlu lagi transmisi rekam medis dengan cara tradisional, yang berarti membuka peluang pelanggaran. Jika satu karyawan yang tidak bertanggung jawab meninggalkan komputer mereka, pelanggaran akan terjadi. Dan jika rekam media jatuh ke tangan orang yang tidak berwenang, berarti keseluruhan database bisa diretas. Namun berbeda jika rekam medis dimasukkan ke dalam blockchain dan tidak dipegang secara lokal, hal itu tidak akan bisa terjadi.

2. Menurunkan penipuan farmasi

Perusahaan farmasi perlu melacak pergerakan obat-obatan mereka, terutama zat-zat yang dikendalikan, dari manufaktur hinggal konsumen. Ketika blockchain diimplementasikan, terdapat rekam lengkap pergerakan obat-obatan, menutup kemungkinan penyalahgunaan obat. Selain itu, penerima obat juga akan mengetahui dari mana obat berasal dan bagaimana obat bisa sampai di tangan mereka. Implikasi dari menurunnya penipuan farmasi pun menjadi jelas.

3. Meningkatkan pertukaran data dalam uji klinis

Perlu waktu lama bagi obat-obatan untuk mendapatkan persetujuan, mungkin menghabiskan waktu bertahun-tahun. Ketika studi dilakukan secara global, tidak ada metode di mana studi bisa disusun menjadi satu database. “Blockchain memastikan hasil uji klinis bisa digabungkan dengan aman dan menunjukkan kemanjuran,” ujar Liu.

4. Menghilangkan penipuan asuransi

Penipuan asuransi membutuhkan perhatian lebih, dan ini termasuk kriminal. Ketika terjadi, penyedia dan pasien yang tidak bertanggung jawab memasukkan klaim/informasi untuk menerima keuntungan. Terdapat tagihan untuk layanan yang tidak dilakukan, terdapat pemalsuan kondisi medis pasien untuk membenarkan, terdapat suap-menyuap, dan sebagainya. Semua ini merugikan asuransi kesehatan. Misalnya, penipuan kesehatan di AS saja mencapai $60 miliar per tahun.

“Teknologi blockchain bisa menghapuskan porsi besar dari penipuan ini ketika penyedia dan pasien harus memasukkan informasi dan data mereka untuk diverifikasi, direkam, dan disimpan. Perusahaan asuransi kesehatan harus memiliki akses pada data tersebut,” ujar Liu.

Tidak ada sistem yang sangat mudah. Namun, sistem tradisional yang masih digunakan industri kesehatan saat ini memiliki kekurangan dalam hal keamanan. Peluang pelanggaran keamanan sangat tinggi, bukan hanya dalam kerugian keuangan bagi penyedia indusri, tetapi juga informasi personal pasien yang beresiko. Teknologi blockchain menawarkan solusi bagi industri kesehatan, dan ini saatnya bagi semua penyedia dan peneliti layanan kesehatan mengeksplorasi potensinya.

Sumber: Forbes