Multisektor Industri di Indonesia Mengintegrasikan Blockchain Dalam Infrastrukturnya

Ary Tantranesia     Monday, November 11 2019

Implementasi blockchain yang paling dikenal adalah cryptocurrency atau mata uang kripto, terutama Bitcoin. Pernah mencapai US$20.000 per koin, mendadak anjlok menjadi sekitar $4.000 di penghujung tahun 2018. Dalam semalam saja, persentase turunnya nilai Bitcoin adalah 6,07%, dan dalam seminggu sudah koreksi 23,12%. Hal ini membuat para investor dan peminat cryptocurrency tidak lagi yakin pada Bitcoin.

Implementasi blockchain yang paling dikenal adalah cryptocurrency atau mata uang kripto, terutama Bitcoin. Pernah mencapai US$20.000 per koin, mendadak anjlok menjadi sekitar $4.000 di penghujung tahun 2018. Dalam semalam saja, persentase turunnya nilai Bitcoin adalah 6,07%, dan dalam seminggu sudah koreksi 23,12%. Hal ini membuat para investor dan peminat cryptocurrency tidak lagi yakin pada Bitcoin. 

Sinisme terhadap industri blockchain ini sangat disayangkan. Padahal, cryptocurrency bukanlah satu-satunya implementasi blockchain yang ada. Jadi, tidak seharusnya generalisasi yang kurang baik tersebut terhadap blockchain terjadi, hanya karena anjloknya harga satu mata uang kripto.

Perubahan Besar yang Blockchain Bawa Blockchain, yang adalah bagian dari perkembangan Industri 4.0, sedang naik daun di seluruh dunia. Perbedaannya, di negara-negara lain, adopsi atau implementasi blockchain sudah sangat masif, namun belum begitu halnya dengan di Indonesia. Pada akhir Desember 2018, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang masih mencari bagaimana bentuk pemanfaatan teknologi blockchain ini. Sedangkan di Norwegia, blockchain sudah digunakan oleh pemerintah untuk sertifikat tanah. Di Singapura, blockchain berhasil mengurangi biaya infrastruktur bank hingga 30 persen dan menghemat biaya tahunan sebesar 8 sampai dengan 12 juta dollar.

Salah satu alasan mengapa perkembangan blockchain di Indonesia sedikit tertinggal masih berkaitan dengan image blockchain di mata rakyat Indonesia, kembali lagi karena anjloknya harga Bitcoin di tahun 2018 lalu. Disisi lain, perkembangan blockchain di Indonesia juga terhambat oleh sinisme terhadap proyek-proyek blockchain Indonesia yang terbentuk dikarenakan buruknya perkembangan blockchain di Indonesia pada tahun 2018 tersebut.

Disaat negara-negara lain sudah menerapkan blockchain ke berbagai sektor bisnis, Indonesia masih berkutat dengan proyek-proyek blockchain yang gagal bertahan selama tahun 2018. Disisi lain, perkembangan teknologi blockchain sendiri adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Di Industri 4.0 ini, cara kerja bisnis dan banyak hal lainnya akan berubah dengan adanya teknologi blockchain. Tidak hanya sektor-sektor bisnis harus beradaptasi dengan teknologi blockchain, namun banyak juga sektor kehidupan yang dapat menjadi lebih baik dengan menerapkan teknologi ini.

Masa Depan Blockchain di Indonesia Meskipun begitu, masih ada harapan besar untuk masa depan blockchain di Indonesia. Bahkan, media Forbes pernah menyebutkan bahwa ada potensi untuk Indonesia menjadi blockchain hub ke depannya. Namun, memang perlu ada usaha untuk menghilangkan sinisme publik terhadap blockchain terlebih dahulu, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. 

Upaya untuk memperbaiki citra proyek blockchain Indonesia ini, tentu tidaklah mudah. Perlu muncul proyek-proyek yang dapat membuktikan ke publik Indonesia bahwa proyek blockchain Indonesia juga bisa memiliki kualitas yang bagus, tidak hanya di level nasional tetapi juga internasional. Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Tokoin. 

Tidak hanya berkontribusi dalam menjadi proyek blockchain lokal yang menawarkan solusi untuk permasalahan ekonomi Indonesia, Tokoin juga mampu membawa nama proyek blockchain Indonesia ke kancah internasional. Hal ini dibuktikan dengan progres Tokoin dalam mengembangkan komunitasnya secara global dan berhasil masuk ke program Spotlight dari KuCoin.com, yang merupakan salah satu platform exchange untuk kripto terbesar di dunia.

Lebih dari sekedar mata uang kripto, Tokoin adalah pionir penerapan blockchain di Indonesia, yang implementasinya secara khusus di bidang ekonomi. Tokoin menggunakan teknologi blockchain dengan memakai data transaksi bisnis dan mengubahnya menjadi identitas bisnis digital sebagai reputasi yang valid, agar bisnis dapat mendapatkan akses pada layanan pinjaman atau layanan lainnya yang dapat membantu terutama sektor UMKM untuk bertumbuh, demi ekonomi Indonesia yang lebih baik.