Bitcoin Tertekan FUD, Ini Perkiraan Penyebab dan Tujuan Koreksinya

Bitcoin saat ini sedang mengalami koreksi yang cukup signifikan yang membuat persepsi “depresiasi” pada pasar crypto.

Walau kenyataannya masih banyak Altcoins yang relatif bergerak naik, saat ini pasar crypto relatif menghadapi kekhawatiran terhadap pergerakan turun yang lebih jauh.

Bitcoin Tertekan FUD Elon Musk

Namun, kenyataannya saat ini tekanan jual yang terjadi hanya sebuah FUD atau kekhawatiran yang beredar terutama akibat kabar dari Elon Musk, CEO Tesla.

Elon Musk baru saja membuat publikasi mengenai pemberhentian Tesla dalam penerimaan Bitcoin sebagai alat pembayaran produknya.

Hal tersebut dikabarkan oleh Elon Musk adalah akibat energi yang digunakannya yang merusak lingkungan dan bertolak belakang dengan tujuan Tesla.

Setelah kabar ini beredar, mayoritas pasar crypto terutama investor ritel mengalami kepanikan dan terlihat menjual.

Banyak pihak yang berkomentar negatif terhadap pernyataan kerusakan lingkungan yang diciptakan oleh Bitcoin, karena merasa tidak sepenuhnya benar.

Salah satu analis menyatakan bahwa 75% penambang Bitcoin menggunakan energi terbaharukan, yang menyalahkan pernyataan kerusakan lingkungan oleh Elon Musk.

Analis terkenal lainnya bernama Willy Woo, juga mempertanyakan pernyataan dari Elon Musk, yang dianggapnya hanya sebuah lelucon untuk memanipulasi pasar.

Willy Woo juga sebelumnya mempercayai bahwa Bitcoin akan terus mengalami apresiasi akibat beberapa hal terutama dari permintaan.

Woo juga percaya bahwa Bitcoin bergerak mayoritas dalam energi terbaharukan.

Menurutnya tidak adil untuk menghakimi bahkan meninggalkan Bitcoin karena alasan Musk.

Namun, saat ini pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh Elon Musk telah membuat kepanikan yang membuat koreksi terus terjadi.

Tetapi walau ia terus membuat pernyataan negatif terhadap Bitcoin, ia meyakinkan bahwa ia tetap percaya terhadap crypto dan Tesla tidak menjual Bitcoin sama sekali.

Sayangnya aksi pemberhentian Bitcoin sebagai alat pembayaran oleh Tesla telah mendorong beberapa perusahaan lain untuk ikut serta.

Salah satunya adalah Square, dimana perusahaan keuangan tersebut akan memberhentikan sementara pembelian Bitcoinnya.

Tapi Square sendiri melalui CEO Jack Dorsey, menyatakan bahwa perusahaannya tidak akan meninggalkan Bitcoin namun sedang membentuk rencana lain.

Tertekan Persepsi Makroekonomi

Namun secara keseluruhan bukan hanya Elon Musk yang menjadi penyebab utama terhadap koreksi Bitcoin yang terjadi saat ini.

Salah satu faktor lain adalah faktor makroekonomi dimana saat ini terdapat narasi bahwa Pemerintah Amerika ingin menerapkan kebijakan kontraktif kembali.

Saat ini Kementerian Keuangan, melalui Janet Yellen, dikabarkan ingin meminta Bank Sentral Amerika untuk kembali meningkatkan suku bunga acuan.

Tujuan tersebut dilakukan akibat dirasa bahwa saat ini kondisi ketenagakerjaan sudah mulai membaik.

Sehingga pemerintah merasa kebijakan fiskal dan moneter sudah dapat menerapkan pandangan kontraktif.

Pernyataan tersebut bermaksud bahwa Amerika ingin kembali mengurangi jumlah uang beredar akibat merasa bahwa kondisi ketenagakerjaan sudah mulai membaik.

Dengan adanya kabar tersebut, mayoritas pasar aset berisiko seperti saham dan crypto mulai khawatir.

Hal ini disebabkan pandangan kontraktif membuat menabung lebih menarik daripada investasi dan konsumsi, menurut teori ekonomi.

Akibatnya, mayoritas aset berisiko seperti crypto tertekan sentimen tersebut. Namun, kabar baiknya Jerome Powell, ketua bank sentral telah menanggapi pernyataan Yellen.

Ia menyatakan bahwa bank sentral masih akan menerapkan pandangan ekspansif dan tidak menaikkan suku bunga acuan bulan ini.

Hal tersebut membawa ketenangan walau belum terjadi penetapan secara pasti mengenai suku bunga acuan tersebut.

Sehingga faktor ini juga menjadi satu hal yang membuat pasar crypto masih relatif bergerak volatil, terutama Bitcoin yang dianggap sebagai komoditas dunia saat ini.

Siklus Akhir Bulan

Kemungkinan faktor ketiga adalah siklus pergerakan harga Bitcoin sejak Tahun 2021 dimana relatif harganya bergerak turun di akhir Bulan.

Sejak Tahun 2021 dimulai, Bitcoin sendiri relatif bergerak turun pada akhir bulan sekitar minggu ketiga dan keempat, terutama minggu keempat.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, terutama oleh kontrak derivatif dari Bitcoin yang memiliki waktu kedaluwarsa di akhir bulan.

Umumnya di akhir bulan terdapat penutupan kontrak futures bulanan oleh trader institusional dan juga kontrak options oleh trader institusional dan ritel.

Dengan penutupan tersebut umumnya terjadi penyelesaian atau settlement yang juga melibatkan penjualan Bitcoin.

Hal tersebut akan terjadi jika trader memilih untuk menutup posisi atau menggunakan jaminan.

Hal tersebut juga menciptakan tekanan jual terhadap Bitcoin akibat juga kontrak derivatif umumnya menjadi cerminan terhadap aset nyatanya.

Jadi di akhir bulan trader relatif menjual aset aslinya dan menunggu sentimen ke pada bulan ke depannya, yang kemungkinan jadi alasan mengapa tekanan jual terlihat relatif signifikan.

Mengingat di 2021 juga mulai banyak institusional yang ikut serta, logika ini juga menjadi masuk akal yang membuat hal tersebut menjadi potensi penyebab koreksi.

Analisis Pergerakan Harga Bitcoin

Untuk pergerakan Bitcoin sendiri, saat ini harganya sudah terkoreksi sekitar 35% dari harga tertingginya.

Koreksi ini masih tergolong wajar di pasar crypto terutama untuk Bitcoin yang umumnya mengalami koreksi di sekitar 20% hingga mendekati 40%.

Untuk saat ini jika dilihat secara garis besar, Bitcoin masih relatif bergerak dalam zona apresiasi sejak akhir Tahun 2020, lebih tepatnya November 2020.

Koreksi ini terlihat sesuai dengan apresiasi yang sehat mengingat dalam enam bulan terakhir Bitcoin telah mengalami apresiasi tanpa berhenti.

Grafik Harian BTCUSD

Untuk saat ini batas bawah yang masih bertahan berada di $45.000 atau Rp642,8 Juta yang merupakan batas terendah sejak Maret 2021.

Jika koreksi terus terjadi , kemungkinan besar batas berikutnya berada pada $40.000 atau Rp571,3 Juta yang jika ditembus dapat berlanjut hingga $35.800 atau Rp511,3 Juta.

Untuk saat ini RSI dan MACD menunjukkan bahwa tekanan jual sudah mulai jenuh yang menandakan adanya potensi untuk mulai pulih kembali.

Tapi saat ini harga masih berada di bawah MA Cross yang menandakan belum adanya potensi untuk Bitcoin naik kembali.

Secara keseluruhan, melihat saat ini baru hanya sekitar 2% dari populasi dunia yang terlibat dalam dunia crypto, potensi untuk Bitcoin naik lebih tinggi setelah koreksi masih lebih tinggi.

Saat ini investor Bitcoin dan crypto masih tergolong awal, jika bercermin pada pergerakan internet dan start up, fenomena crypto dapat naik lebih tinggi lagi.

Naufal Muhammad

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.

Muhammad Naufal merupakan seorang penggemar bidang makroekonomi dan keuangan. Pada saat ini fokus utama tertuju pada bidang teknologi keuangan terutama trading dan investasi crypto.