Featured SosMed

6 Sosial Media Populer Siapkan Teknologi Blockchain

Tidak dipungkiri lagi, hampir semua teknologi IT yang bisa kita akses dengan mudah melalui browser sedang mengalami fase perubahan besar. Dikalangan perusahaan sosial media terpopuler seperti Telegram, Facebook, WeChat, tengah mempersiapkan gebrakan besar. Semuanya untuk satu tujuan, layanan UI yang memuaskan dan jaminan keamanan yang lebih tangguh dan sulit ditembus. Strategi perang pasar pengguna sudah dimulai sejak booming internet. Lalu, apa saja gebrakan dalam dunia blockchain yang bakal diusung sosial media tahun ini?
 Sosial Media Terpopuler
Sosial media dan pesan berbasis blockchain merupakan fakta yang mencakup kebutuhan dasar pengguna. Suka atau tidak, dikemudian hari aplikasi ini akan melakukan upgrade untuk menyaingi pesaingnya. Diusungnya blockchain justru akan menawarkan kebebasan memilih dan dorongan insentif. Ada beberapa rencana teknologi blockchain saat ini tengah dipersiapkan oleh platform sosial media terpopuler.

Gebrakan Baru Sosial Media Terpopuler

Siapa saja yang bakal ikut beralih meng-upgrade aplikasinya mengikuti perkembangan blockchain? Beberapa sorotan berikut hanya sebagian kecil dari sosial media populer yang diam-diam ikut mengadopsi blockchain. Selain itu, puluhan sosial media berbasis blockchain saat ini sedang menanti pengguna baru. Jika perusahaan raksasa ini tidak ikut andil, mungkin saja kita tak pernah lagi mendengan namanya beberapa tahun mendatang.

1. Telegram TON (Telegram Open Network)

Tidak banyak orang yang mendengar tentang kehadiran TON yang berencana membangun proyek blockchain. TON akan berubah menjadi platform pertama yang membawa beragam layanan terdesentralisasi dengan target pasar massal. TON telah mengumpulkan 1,7 miliar dolar AS dari investor swasta, dan tidak ada ICO publik karena dana yang diperoleh sudah mencukupi. Jumlah dana yang diperoleh sangat besar dan oleh sebab itu SEC dan CFTC menganggapnya sebagai proyek sekuritas. Pada bulan Mei 2018, fungsi TON pertama, Telegram Passport, dibangun untuk menghilangkan Anonimitas dengan platform. Menjaga data pengguna secara pribadi dengan menggunakan otentikasi dua faktor. Aplikasi ini segera diluncurkan dalam waktu dekat.

2. Facebook

Ternyata Facebook tidak mau ketinggalan dalam perubahan besar-besaran dunia IT, dan segera merevolusi aplikasi dengan blockchain. Tak seperti Telegram, inisiatif blockchain Facebook dianggap skeptis. Karena Facebook dianggap musuh terhadap inisiatif blockchain dengan cara melarang iklan kripto. Tetapi, jika kita melihat tim blockchain Facebook, jelas saat ini mereka sedang mengejar tujuan yang mirip dengan Telegram. Tim ini fokus pada pengembangan otentikasi ID berbasis blockchain, layanan pembayaran, dan pesan.

3. Kakao

Perusahaan raksasa asal Korea Selatan juga berencana untuk mengusung teknologi blockchain ke dalam strukturnya. Kabar buruknya, Kakao saat ini sedang mencari yurisdiksi luar negeri yang sesuai untuk menjalankan ICO. Alasannya, karena penjualan token kripto dilarang di Korea Selatan.

4. LINE

App asal Jepang yang memiliki lebih dari 200 juta pengguna aktif bulan. Info yang baru-baru ini muncul dikabarkan bahwa LINE bermitra dengan ICON dari Korea Selatan. Hal ini ditujukan untuk melaksanakan sebuah proyek blockchain senilai 1,6 miliar dolar AS. LINE juga berencana akan merilis aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan mainnet blockchain pada protokol ICON blockchain.

5. WeChat

Siapa yang tak kenal WeChat, salah satu platform sosial terbesar di dunia yang digunakan oleh 1 miliar pengguna. Dibandingkan dengan Facebook, WeChat sangat optimis menghadapi perubahan kedalam blockchain. Pada bulan Mei, WeChat menangguhkan Xiao Xieyi, sebuah program blockchain pertama pada platform-nya. Platform ini memungkinkan pengguna untuk membuat kontrak blockchain dengan biaya 0,5 dolar AS sebagai pembayaran kepada penambang.

6. Birdchain

Diawal tahun 2018, layanan pesan teks Birdchain bermitra dengan BitRewards. Sebuah perusahaan yang khusus memberikan hadiah kripto dan program loyalitas kepada pelanggan. Pengguna Birdchain bisa menjual pesan dan data SMS yang tidak terpakai. Dan imbalan lainnya, pengguna bisa mendapatkan uang dengan menonton video promosi.
Perusahaan sosial media terpopuler sepertinya tidak punya pilihan lain. Jumlah perangkat berbasis blockchain diseluruh dunia semakin berkembang pesat yang diiringi dengan bertambahnya pengguna secara besar-besaran. Tentunya hal ini akan menyebabkan volume data yang terus meningkat. Jika tidak, sistem bisa saja terhenti, macet, sehingga bisa membuat pengguna beralih ke platform lain. Besarnya data justru menciptakan kebutuhan besar, tak ada jalan keluar lain selain menerapkan blockchain untuk komunikasi P2P dan distribusi data.

You may also like