Pemula
Untuk kamu yang baru mau mulai masuk dan belajar dasar - dasar cryptocurrency dan blockchain.Temukan ragam materi mulai dari Apa itu Cryptocurrency, apa itu Bitcoin, hingga Apa itu NFT.
Berita Industri · 6 min read

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengingatkan investor kripto di Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi tekanan pasar yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Harga sejumlah aset kripto utama merosot tajam, dipicu memburuknya sentimen global dan meningkatnya kecenderungan pelaku pasar beralih ke aset berisiko rendah.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa mayoritas aset kripto yang diperdagangkan di Indonesia bersumber dari pasar internasional. Hal ini membuat pergerakan harganya sangat sensitif terhadap perubahan dinamika global.
“Karena itu, kami mengimbau seluruh investor atau konsumen aset kripto domestik untuk terus meningkatkan pemahaman terhadap karakteristik instrumen ini,” ujar Hasan di sela agenda OECD di Bali, dikutip dari Kompas (1/12/2025).
Baca juga: BI Ingatkan Risiko Kripto Tanpa Pengawasan, Tekankan Urgensi Rupiah Digital
OJK menegaskan bahwa aset kripto memiliki volatilitas harga yang sangat tinggi. Kondisi pasar internasional dengan cepat memengaruhi pasar domestik karena exchange di Indonesia memperdagangkan aset yang sama dengan bursa global.
Untuk memitigasi risiko, OJK terus memperluas literasi keuangan digital di berbagai daerah, dengan fokus pada peningkatan pemahaman investor mengenai risiko kripto dan strategi pengelolaan eksposur portofolio.
Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, tercatat turun signifikan ke area US$80.000 pada akhir Oktober. Angka ini mencerminkan penurunan lebih dari 25% dari rekor tertinggi di atas US$126.000 yang dicapai pada awal Oktober 2025.
Tekanan serupa juga dialami berbagai aset besar lainnya seperti Ethereum (ETH), XRP (XRP), BNB (BNB), dan Solana (SOL). Anjloknya kripto sejak saat itu turut mengakibatkan likuidasi besar-besaran pada pasar derivatif.
Selain koreksi harga, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve menjelang Desember 2025 turut membebani sentimen pasar. Tekanan semakin besar akibat aksi jual dari investor jangka panjang dan whale, serta arus keluar dana dalam jumlah besar dari produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin dan Ethereum spot di Amerika Serikat.
Dalam sebulan terakhir, indeks Fear and Greed kripto terus berada pada zona ketakutan. Hingga artikel ini ditulis, indeks tersebut berada di level 23 dari 100, mencerminkan kondisi ketakutan ekstrem yang membuat banyak investor menahan diri untuk masuk kembali ke pasar.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$86.700, merosot dari level US$90.000 yang tercatat pada akhir bulan lalu.
Konten baik berupa data dan/atau informasi yang tersedia pada Coinvestasi hanya bertujuan untuk memberikan informasi dan referensi, BUKAN saran atau nasihat untuk berinvestasi dan trading. Apa yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan segala jenis dari hasutan, rekomendasi, penawaran, atau dukungan untuk membeli dan menjual aset kripto apapun.
Perdagangan di semua pasar keuangan termasuk cryptocurrency pasti melibatkan risiko dan bisa mengakibatkan kerugian atau kehilangan dana. Sebelum berinvestasi, lakukan riset secara menyeluruh. seluruh keputusan investasi/trading ada di tangan investor setelah mengetahui segala keuntungan dan risikonya.
Gunakan platform atau aplikasi yang sudah resmi terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia. Platform jual-beli cryptocurrency yang terdaftar dan diawasi BAPPEBTI dapat dilihat di sini.
Topik
Coinvestasi Update Dapatkan berita terbaru tentang crypto, blockchain, dan web3 langsung di inbox kamu.