Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Kecewa dengan Aturan Crypto di US, Ripple Ingin Pindah Kantor

Naufal Muhammad     Monday, December 14 2020

Brad Garlinghouse, CEO Ripple, dikabarkan telah memiliki niat untuk memindahkan kantor pusat Ripple dari Amerika. Keputusan ini muncul karena beberapa permasalahan dengan regulasi. Namun saat ini dikabarkan Brad Garling House, CEO Ripple memilih untuk menunggu harapan baru dari presiden baru, Joe Biden.

Menurutnya, dengan adanya presiden baru, regulasi di Amerika akan lebih memihak pada mata uang kripto. Sehingga, beliau tidak menetapkan tenggat waktu yang tetap untuk perpindahan pusat perusahaannya, dan ada kemungkinan besar untuk membatalkannya.

CEO Ripple Berubah Pandangan

Selama ini, Ripple dikenal sebagai perusahaan yang sangat baik dimana mereka selalu patuh dengan regulasi dari pemerintah. Pada awal 2016, Ripple bergerak sebagai perusahaan yang mendukung regulasi dari pemerintah dan tidak seperti Bitcoin yang ingin terdesentralisasi secara total.

Namun, sejak awal tahun ini, nampaknya pandangan perusahaan terhadap pemerintah telah berubah akibat adanya kekecewaan. Sejak awal tahun ini, Ripple telah bergerak lebih vokal untuk mengutarakan bahwa mereka merasa tidak didukung oleh pemerintah.

Baca juga: Lima Koin Teratas Mulai Bangkit dari Sell Off!

Hal ini membuat adanya ancaman bahwa perusahaan akan pindah dari Amerika ke luar negeri. Kekecewaan ini datang dari ketidakjelasan regulasi terutama dari Securities and Exchange Commision (SEC) yang nampaknya mulai menghambat kinerja Ripple.

Ancaman ini nampaknya juga hanya sekedar dorongan untuk mempercepat penjelasan dari SEC akibat sifatnya yang masih tidak pasti. Namun ancaman ini memperlihatkan bagaimana regulator masih belum jelas dalam mengayomi pasar kripto di Amerika.

Ketidakjelasan Regulator Buat Ripple Pindah

Sebelumya Ripple, melalui koinnya, XRP, bergerak dengan mendorong kerja sama bersama pemerintah dan bank, tidak seperti Bitcoin. Hal ini membuat XRP menjadi salah satu kripto yang tidak terlalu vokal terkait permasalahan desentralisasi.

Namun setelah Initial Coin Offering (ICO) di 2017, lama-kelamaan regulasi yang diberikan regulator semakin tidak jelas dan semakin rumit. Hal ini membuat Ripple merasa kesulitan dan merasa terhambat dalam kinerjanya. Ini juga menjadi salah satu penyebab Ripple ingin pindah kantor pusat.

Namun akibat mulai keluarnya Ripple dari regulasi yang dirasa rumit, terdapat tuntutan pada 2018 oleh perusahaan investasi dan investor privat. Hingga saat ini kasus masih berjalan walau beberapa tuntutan sudah dibatalkan oleh hakim.

Baca juga: Ini 3 Faktor Harga XRP Melonjak Hingga 91% dalam Sebulan

Sangat disayangkan bahwa niat awal Ripple adalah untuk mempermudah kemajuan perusahaan, namun akibat regulasi yang mempersulit, investor menjadi ketakutan dan mendapat kasus hukum. Di saat yang bersamaan SEC juga terus memberikan regulasi rumit kepada perusahaan yang baru saja ICO.

Sehingga kondisi Ripple sedang sangat rumit dan membuat perusahaan merasa dikhianati akibat kepatuhan yang diberikan dibalas dengan kerumitan oleh regulator. Sehingga, hal ini yang membuat tuntutan Ripple terhadap regulator menjadi lebih kuat dan membuat adanya keinginan untuk keluar dari Amerika secara legal.

Rencana IPO

Kondisi saat ini kemungkinan akan tambah rumit akibat dari adanya keinginan Ripple untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana. Hal ini disebabkan perlu adanya hubungan kembali dengan SEC yang nampaknya masih mempersulit regulasi untuk Ripple.

Tetapi, terdapat juga kemungkinan bahwa dengan adanya niatan untuk IPO, regulator akan mempermudah. Hal ini disebabkan dengan IPO, perusahaan menjadi lebih terbuka terhadap publik, terutama regulator, dan akan mempermudah proses pengawasan.

Namun kemungkinan besar hal tersebut akan terjadi mengingat kondisi pemerintah saat ini yang masih belum secara total mendukung perkembangan mata uang kripto. Tapi satu hal yang dapat berubah adalah dengan adanya kepemimpinan dari Joe Biden yang dapat memberikan harapan baru.

Sehingga jika semua berubah di bawah Joe Biden, CEO Ripple memberikan pernyataan bahwa ada kemungkinan Ripple pindah tidak terjadi. Sehingga jika IPO dapat dilaksanakan juga, Ripple kemungkinan akan menjadi perusahaan yang terus maju bersama nama kripto.

Tetapi, dari pernyataan juru bicara Ripple di CNN, perusahaan masih menolak untuk menyatakan secara rinci rencananya ke depan. Selain itu, perusahaan juga masih menolak untuk merincikan alasan mengapa relokasi ingin dilakukan dan mengapa penundaan terjadi.

Oleh karena itu, ke depannya kemungkinan besar Ripple masih akan terus berada di sentimen ketidakpastian. Sayangnya, sentimen ini sudah terlihat pada XRP yang terlihat masih bergerak turun setelah sebelumnya naik.

Sejak akhir November, XRP telah turun sekitar 27% dan sejak pekan lalu XRP telah mengalami penurunan sekitar lebih dari 18%. Namun semua dapat berubah terutama di 2021 yang nampaknya akan menjadi penentu langkah Ripple ke depannya di bawah pemerintahan Joe Biden.

Untuk membaca beritanya lebih rinci, kunjungi artikel disini