Kaspersky Lab: Hanya 1 dari 10 Orang yang Mengerti Cryptocurrency

By febrian surya     Wednesday, July 10 2019

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh perusahaan cybersecurity Kaspersky Lab mengungkapkan bahwa hanya 1 dari 10 orang saja yang memiliki pemahaman yang baik terkait cryptocurrency.

Berdasarkan laporannya, yang diberi judul “Uncharted Territory: Why Consumers are Still Wary about Adopting Cryptocurrency,” yang mana studi ini dilakukan antara bulan Oktober dan November 2018, dengan total responden 13.434 yang berasal dari 22 negara.

Menurut surveinya, hanya 10% responden yang memahami cara kerja cryptocurrency, dan hanya 19% orang di seluruh dunia yang sudah membeli cryptocurrency.

Meskipun 45% mengatakan mereka telah mendengar tentang konsep cryptocurrency tersebut, mereka mengakui bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara kerjanya. Faktanya, 18% mengaku sudah berhenti menggunakan cryptocurrency, hal ini dikarenakan rumit dimengerti secara teknis.

The Cryptocurrency Report 2019 Kaspersky Lab, yang melihat kepada sikap konsumen terhadap cryptocurency, menemukan bahwa sepertiga responden berpikir bahwa cryptocurrency hanyalah sebuah tren yang nantinya akan digantikan dengan hal lainnya yang jauh lebih besar. Walaupun demikian, setidaknya sebesar 14% sedang mempertimbangkan untuk menggunakan cryptocurrency di masa depan.

Volalitas tinggi (31%) adalah salah satu alasan investor kripto berhenti menggunakan cryptocurrency, ini menunjukkan perlunya suatu kestabilan dari suatu mata uang digital sebelum orang siap menggunakannya. Faktor utama lainnya termasuk kerugian uang ketika pasar cryptocurrency sedang mengalami tren penurunan (23%), sedangkan keyakinan bahwa cryptocurrency tidak menguntungkan lagi (23%), dan cryptocurrency tidak didukung dengan aset riil (22%).

Beberapa pengguna kripto global juga berhenti menggunakan cryptocurrency dikarenakan faktor peretasan dan kerentanan akan penipuan dengan masing-masing sebesar 19% dan 15%, sementara 14% tidak lagi percaya kepada cryptocurrency lagi.

“Seperti ancaman cyber lainnya, tidak ada pengganti untuk kewaspadaaan tersebut – jika sesuatu terlihat terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, maka itu mungkin benar,” Vitaly Mzokov, Kepala Komersialisasi di Kaspersky Lab, mengatakan dalam siaran pers, mencatat bahwa sifat rentan cryptocurrency dan kesenjangan pengetahuan investor kripto adalah suatu rintangan yang harus dilewati untuk adopsi dan pertumbuhan cryptocurrency  itu sendiri.

“Cryptocurrency tentu memiliki manfaat, tetapi, seperti yang dapat kita lihat, banyak konsumen masih tidak menyadari apa yang mereka khawatirkan tentang keamanan dan bagaimana teknologi itu bekerja. Ini adalah industri yang menarik untuk dilibatkan, tetapi merupakan industri yang dibangun berdasarkan kepercayaan,” Alexey Sidorowich, Kepala Penjualan dan Pengembangan Bisnis di Merkeleon, berkomentar, dan menekankan bahwa bisnis kripto harus menjaga jaringan mereka dan melindungi investasi pelanggan mereka.

Sementara itu, fitur threads milik Twitter baru-baru ini melalui platform perdagangan kripto The TIE menemukan bahwa Amereka Serikat menyumbang lebih dari sepertiga dari total tweet Bitcoin, diikuti oleh Inggris dengan hanya 10,5%. Di sisi lain, Venezuela memiliki pandangan yang lebih negatif pada cryptocurrency dengan 62% dari total tweet yang bernada lebih negatif.

Sumber