Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Intip, 7 Negara dengan Mata Uang Digital Bank Sentral!

Wafa Hasnaghina     Thursday, November 26 2020

Mata uang crypto khususnya Bitcoin menunjukkan rally besar-besar di tahun 2020 ini. Pesonanya tidak hanya membuat perusahaan besar institusional berbondong-bondong membeli Bitcoin masuk ke dalam portofolio mereka. Tidak mau kalah, para pejabat dan petinggi pemerintahan dunia mulai mempertimbangkan keberadaan crypto dan mulai merencanakan Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) nya sendiri.

Berikut 7 Negara yang saat ini sudah memiliki atau bahkan dalam tahap perencanaan Mata Uang Digital Bank Sentralnya sendiri.

Kepulauan Bahama

Beberapa saat lalu Coinvestasi memberitakan terkait dengan peluncuran SAND Dolar sebagai Mata Uang Digital Bank Sentral di Kepulauan Bahama. 

Dalam proses pengadopsiannya, setidaknya proyek ini akan digunakan dalam transaksi kehidupan sehari-hari di masyarakat tersebut. Pemerintah juga menerapkan standar tinggi dan proteksi seperti verifikasi akun (KYC) untuk mencegah terjadinya praktik pencucian uang. 

Petinggi di sana juga sudah bekerja sama dengan beberapa lembaga keuangan dalam menyediakan SAND Dolar ini di masyarakat, termasuk Omni Financial, Kanoo, SunCash, Cash N Go, Mobile Assist, dan Money Maxx.

Swedia

Dalam beberapa laporan, Swedia masuk ke dalam negara yang dengan aktif mengembangkan CBDC miliknya sendiri. Hal ini lantaran negara tersebut mengalami krisis ekonomi dan membuat pergerakan ekonomi menjadi lambat. 

Jika melihat di situs resmi Bank Sentral Swedia, CBDC yang bernama E-Krona tersebut akan diuji coba hingga Februari 2021 mendatang. 

Sebenarnya konsep dari E-Krona ini telah dipublikasikan pada musim semi tahun 2017 silam, sebelum bubble Bitcoin terjadi. Tujuan dari pembangunan E-Krona ini tidak lain agar bisa selalu mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Satu E-Krona nantinya akan setara dengan satu Krona Swedia.

Amerika Serikat

Berbeda dengan Kepulauan Bahama dan Swedia, Amerika Serikat baru memulai proyek digitalisasi Dollar pada tahun 2020 dengan secara resmi mengeluarkan White Papernya ke publik. 

Langkah ini akhirnya dipertimbangkan lantaran negara adidaya lain seperti Tiongkok telah berhasil mengeluarkan dan menguji coba CBDC-nya sendiri. Namun, menurut beberapa laporan terkait kelanjutan proyek, dolar digital merupakan proyek yang akan memakan waktu yang cukup lama dalam perkembangannya.

Selain itu, Amerika Serikat juga tidak mau terburu-buru dan tetap mengedepankan penelitian mendalam dan mencari keuntungan sekaligus kekurangan dari peralihan mata uang tunai ke digital.

“Dengan mengubah pembayaran, digitalisasi berpotensi memberikan nilai dan kenyamanan yang lebih besar dengan biaya yang lebih tinggi,” ujar Lael Brainard dalam pidatonya di Standford Graduate School of Business tahun 2020. 

Selain itu, Federal Reserve US masih berfokus pada pengembangan dengan menitik beratkan kepada privasi pengguna. 

“Privasi (pengguna) merupakan pertanyaan paling krusial yang kita pelajari dari perspektif teknis,” ujar Robert Bench sebagai Kepala Federal Reserve Bank of Boston. 

Selama ini, orang-orang di dunia menggunakan USDT yang notabennya merupakan mata uang crypto yang setara dengan satu dolar AS. USDT sendiri dikelola oleh perusahaan swasta Tether dan bukan Federal Reserve.

Baca juga: Apa itu USD Tether (USDT) dan Bedanya dengan USD?

Eropa 

Di Eropa beberapa negara seperti Swiss, Belanda, Inggris dan beberapa negara lainnya berkumpul bersama Bank for International Settlements (BIS) untuk membahas terkait proyek Mata Uang Digital Bank Sentral masing-masing negara. 

Dalam laporan ekonomi BIS, Mata Uang Digital Bank Sentral diprediksi akan dapat menghasilkan perubahan besar dalam mengatasi kekurangan yang ada saat ini. 

“Mata uang Digital Bank Sentral memiliki potensi untuk menjadi langkah selanjutnya dalam evolusi keuangan”

Terlebih, pandemi tahun 2020 membuat tren dan pengadopsian pembayaran digital semakin meningkat. 

“Pandemi hadir sebagai katalis, mempercepat transisi menuju kenormalan baru di industri digital,” ujar Christine Lagarde, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB). 

ECB sendiri mengatakan,

“Proyek ini mungkin akan memakan waktu dua, tiga, empat, tahun sebelum resmi diluncurkan.”

Hal ini lantaran pengembangan mata yang digital Euro yang tidak mudah. ECB sendiri akan mengumumkan lebih lanjut terkait dengan pengembangan Mata Uang Bank Digital pada Januari 2021.

Tiongkok 

Untuk Mata Uang Digital, Tiongkok masuk ke dalam negara yang terdepan. Pasalnya, ketika negara lain baru saja mencanangkan konsep ini, Yuan Digital sudah dalam tahap pengembangan dan uji coba.

Dilansir dari beberapa berita Coinvestasi, sekitar April 2020, Tiongkok bahkan telah dirumorkan telah merilis dompet digital untuk kemudian diuji di beberapa wilayah di sana. 

Fasilitas yang ditawarkan pun sangat mutakhir seperti pemindaian barcode, pengiriman uang, pembayaran, dan termasuk layanan pembayaran P2P. Dalam proyek tersebut akan ada lebih dari 22 perusahaan yang terlibat langsung dalam proyek ini.

Setelah rumor tersebut, kemudian Tiongkok resmi meluncurkan jaringan layanan blockchain resmi. Dalam beberapa laporan, jaringan tersebut dirancang sebagai jaringan infrastruktur publik global yang bertujuan untuk secara konsisten mengurangi biaya pengembangan aplikasi blockchain dan penyebaran serta operasinya.

Untuk Yuan Digital sepertinya masyarakat dunia tinggal menunggu waktu perilisan secara resmi ke publik.

Kesimpulan

Itulah 7 Negara dengan Mata Uang Digital Bank Sentralnya. Kali ini perkembangan Mata Uang Digital masih dipimpin oleh Tiongkok.

Bukan tidak mungkin nantinya dunia mulai beralih dari mata uang fiat ke mata uang digital. 

Dalam wawancara bersama Coinvestasi, mata uang digital ini akan membuat perekonomian bertumbuh.

“Mata Uang Digital membuat pemerintah memiliki kendali atas mata uang tersebut. Proses keuangan akan bertumpu pada satu pembayaran. Dengan itu ekonomi akan bertumbuh. Pemerintah juga bisa menerapkan peraturan Anti Money Laundry karena sifat mata uang digital yang lebih transparan.”