Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Generasi Z Harus Melek Inflasi, Yuk Mulai Investasi!

Wafa Hasnaghina     Wednesday, August 26 2020

Jika kamu tanyakan pada orang tua kamu sekarang “berapa uang jajan mereka semasa waktu kecil”, pasti jawabannya bikin kamu tercengang! Bisa bayangkan tidak jika dulu sebungkus harga mie instan cuma di kisaran Rp500.

Iya bener, lima ratus perak! Atau pernah tidak kamu merasakan, 1 permen itu cuma di kisaran Rp100 ? jadi jika kamu membeli dengan Rp1.000, kamu akan mendapatkan 10 permen?!

Belum pernah? Wah berarti umur kamu sangat muda ya! Sekarang, saat artikel ini ditulis sudah tahun 2020, coba deh kamu gunakan uang Rp500 untuk membeli sesuatu di pasar swalayan?

Pasti kamu akan bertanya “Mana bisa Rp500 digunakan belanja di pasar swalayan!”. Jangankan pasar swalayan, toko atau warung di dekat rumah kamu saja mungkin sudah tidak menerima uang Rp500 atau paling tidak, hanya bisa digunakan membeli 1 permen.

Lho, kok bisa?! Eits, tidak usah bingung… Peristiwa tersebut dinamakan inflasi. Jika mengacu pada KBBI, inflasi diartikan sebagai kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. 

Lalu, pertanyaan selanjutnya… Siapa yang bertanggung jawab untuk mengedarkan dan mencetak uangnya? Tentu pemerintah. Jadi, dasarnya uang kertas itu digunakan dan dipakai atas kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya, atau konsensus bersama di dalam sebuah negara atau tempat.

Di Indonesia, peredaran uang kertas diatur oleh Bank Indonesia dan pemerintah mengatur ekonomi berdasarkan kebijakan moneter yang ada. Biasanya kedua lembaga ini berperan penting dalam mengatur dan mengontrol seberapa banyak jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Penyebab Inflasi

Lalu, apa sebenarnya penyebab terjadinya inflasi?

Penyebab inflasi itu beragam, tetapi tiga sumber inflasi yang paling dirasakan di Indonesia adalah 

1. Meningkatnya Kebutuhan Hidup

Untuk poin pertama ini, jelas semua orang pasti merasakannya, bukan? Hal ini juga mengacu pada hukum supply-demand, di mana ketika permintaan meningkat, maka harga pun akan mengalami kenaikan. 

Misalnya, inflasi pada harga properti. Di Jakarta saja harga rumah sudah ada dikisaran yang bukan main tingginya. Ini karena permintaan terhadap pemukiman itu tinggi sekali, tetapi lahan kosong sulit untuk ditemukan.

2. Dorongan Biaya Tinggi

Lebih lanjut, meningkatnya kebutuhan hidup di atas, berarti juga selaras dengan adanya biaya-biaya yang semakin hari juga semakin tinggi. Misalnya saja, untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut, berarti jalan terbaik adalah dengan mencari penghasilan yang juga tinggi, bukan begitu? Hal ini berarti upah yang harus diberikan juga akan semakin tinggi. 

Belum lagi, dari faktor luar mengacu pada bahan-bahan baku di pasaran yang juga tinggi, seperti bahan-bahan kebutuhan pokok. Lalu, ada juga pengaruh harga barang impor yang bisa berdampak pada melemahnya nilai tukar Rupiah dengan valuta asing. 

Ditambah jika kebutuhan itu meningkat, pastinya pajak juga akan ikut naik. Jika seperti ini terus, mungkin saja akan ada kecenderungan penurunan daya beli di masyarakat.

3. Tingginya Peredaran Uang (Kertas)

Nantinya, jika masyarakat mulai menurun tingkat atau daya belinya. Pemerintah cenderung akan menerapkan sistem anggaran defisit, dengan mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk menutupi kekurangan anggaran yang ada.

Kembali lagi uang yang akan beredar semakin banyak dan bisa jadi jumlah barang yang diperjualbelikan masih tetap atau justru jumlahnya sedikit, hal ini lagi-lagi akan menyebabkan inflasi. 

Baca juga: Ini 6 Alasan Bitcoin Lebih Baik dari Fiat!

Duh… prosesnya seperti lingkaran tanpa henti dan berkesinambungan! Terus apa yang dilakukan untuk mencegah inflasi itu?

Yuk mulai Investasi!

Iya, investasi merupakan salah satu cara untuk melindungi nilai. Ini bisa dikaitkan dengan kecenderungan investasi yang juga harganya ikut naik seiring dengan waktu berjalan. Eits.. untuk investasi jangan sembarangan ya! 

Kamu juga perlu pengetahuan agar nantinya portofolio atau dana yang kamu kelola tidak rugi atau justru hilang. Ini mengingat investasi itu juga merupakan langkah dengan keuntungan besar sekaligus dengan risiko yang menyertainya. 

Biasanya investasi itu dipilih untuk jangka panjang. Apalagi baru-baru ini banyak sekali program yang mengusung investasi dengan modal yang rendah! Misalnya saja investasi dengan Reksadana. Dengan modal Rp100.000 kamu sudah bisa investasi Reksadana.

Lalu, apalagi yang bisa didapatkan dengan Rp100.000?

Lawan Inflasi dengan Beli Bitcoin!

Cara paling mudah itu dengan Beli Bitcoin! Di masa-masa pandemi dan serba tidak pasti, sangat banyak tokoh dunia yang mulai mencari alternatif lain selain dengan investasi-investasi di pasar modal, properti, dan lainnya beralih dengan membeli Bitcoin. 

Hal ini mengingat nilai dari Bitcoin jika dipasangkan dengan USD itu terus meningkat. Bayangkan saja, yang tadinya nilai persatu Bitcoin hanya sebesar 0,08 USD atau setara Rp721,84 dengan kurs saat itu, dan sekarang nilainya mencapai $12.000 pada 2 Agustus 2020 atau setara dengan Rp176.328.600 dengan kurs saat itu. 

Chart Grafik Harga Bitcoin
Chart Grafik Harga Bitcoin

Wow… menggiurkan banget ya? Tapi mahal banget dong modalnya harus Rp 176.328.600? Tenang aja Bitcoin bisa lho dibeli dengan harga Rp50.000! Itu setara dengan Setara dengan 0,00030 BTC. Lagi, ini juga merupakan keunggulan Bitcoin, di mana 1 Bitcoin itu setara dengan 100.000.000 Satoshi atau unit terkecil dari Bitcoin. 

Gimana cara belinya? Gampang banget, kamu bisa membeli Bitcoin di bursa pertukaran yang sudah terdaftar di Bappebti. Sekali lagi, Bitcoin itu sudah resmi ditetapkan sebagai komoditas berupa aset digital. Ini berarti Bitcoin itu bisa diperjual belikan secara legal! 

Jika semua itu sudah dilakukan, jangan lupa kelola keuanganmu dengan baik ya!

Catat semua pengeluaran supaya tidak ada pengeluaran “bocor halus” yang justru akan menghabiskan uang/dana kalian. Yang paling penting sisihkan sebagian uang untuk tabungan, dana darurat, dan investasi. 


Artikel ini bertujuan untuk mengedukasi seputar aset digital dan ekonomi untuk pemula. Bahan penelitian didapatkan dari berbagai sumber untuk memberikan informasi. Investasi dalam instrumen apa pun harus dilakukan secara sadar dengan menimbang keuntungan serta risiko yang ada dan dilakukan tidak dengan paksaan dari pihak mana pun.

Artikel Terkait

 Lihat Lebih