Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Bitcoin Jadi Emas Digital, Bener Gak Sih?

Wafa Hasnaghina     Wednesday, June 3 2020

Sudah berabad-abad sejak emas digaungkan sebagai objek bernilai tinggi di dalam masyarakat. Terlebih lagi emas selalu diusung sebagai lindung nilai yang cukup baik dalam keadaan ekonomi apa pun. Harga emas juga termasuk paling stabil diantara aset lainnya. Nilai keistimewaan lain dari emas ini juga dikaitkan dengan fakta bahwa cadangan emas semakin menipis dan pasti akan habis suatu saat nanti.

Setelah kemunculan emas berabad lalu dan kepercayaan masyarakat padanya, muncul Bitcoin pada tahun 2009 sebagai aset virtual peer-to-peer yang menawarkan sistem keuangan baru. Untuk dapat diusung sebagai emas digital, Bitcoin memerlukan waktu yang tidak sedikit dan pembuktian validitasnnya yang panjang. Di awal kemunculannya, Bitcoin dianggap sebagai aset berisiko tinggi dan juga memiliki volatilitas yang tinggi. Walaupun dengan anggapan tersebut, Bitcoin tetap menunjukkan keunggulannya dengan berhasil menjadi aset crypto nomor satu berdasarkan kapitalisasi pasar. 

Sama seperti emas yang memiliki proses yang tidak mudah untuk dapat dimiliki, Bitcoin juga memiliki proses yang cukup sulit. Hal ini bisa terlihat dari proses mining atau penambangan Bitcoin, trading Bitcoin, yang membutuhkan perangkat yang canggih sekaligus usaha yang keras, hingga akhirnya Bitcoin baru benar-benar bisa dimiliki seutuhnya.

Hal ini juga ditambah fakta, sama seperti emas yang akan habis, pasokan Bitcoin di dalam jaringan blockchain juga setiap harinya terus berkurang karena aktivitas-aktivitas tersebut. Yang pada akhirnya menjadikan Bitcoin sebagai instrumen berharga dan langka yang memiliki nilai tinggi dan stabil.

Bitcoin vs Emas

Jika dilihat dari riwayat jumlah pasokan Bitcoin dan Emas yang semakin sedikit setiap harinya membuat nilai mereka cenderung semakin tinggi. Fakta ini juga terkait dengan jumlah total Bitcoin yang memang sengaja diluncurkan oleh “Satoshi Nakamoto” pada tahun 2009 dengan hanya berjumlah 21.000.000 Bitcoin. Jumlah yang terbatas dan terus menerus berkurang ini menjadikan Bitcoin sebagai aset crypto yang semakin hari semakin langka. 

Terlebih lagi terdapat mekanisme halving bitcoin yang diadakan setiap empat tahun sekali yang hanya ada di dalam jaringan Bitcoin. Proses halving ini membuat jumlah Bitcoin yang beredar di pasaran berkurang setengahnya.

Contohnya saja, pada halving ketiga yang baru-baru ini terjadi, rewards dalam penambangan 210.000 blok berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC serta jumlah total yang sudah ditambang itu sudah lebih dari 18.375.000 keping. Ini berarti keping Bitcoin ke 21.000.000 akan habis pada sekitar tahun 2140 mendatang. 

Selain mekanisme halving, popularitas yang ada pada Bitcoin juga disebabkan karena portabilitas Bitcoin yang sangat tinggi. Hal ini terjadi karena Bitcoin berada di dalam jaringan yang dapat dihubungkan dengan perangkat lainnya. Portabilitas Bitcoin ini sudah terkenal di kalangan penggemar crypto, bahkan ada yang mampu memindahkan Bitcoin dalam jumlah yang sangat besar dengan biaya rendah. Hal ini sulit ditemukan pada aset lainnya.

Selain itu, jual/beli Bitcoin juga dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, saat ini sudah banyak bursa pertukaran aset crypto yang terdaftar di Bappebti dalam menjamin legalitas transaksi tersebut di Indonesia. Transaksi-transaksi pada bursa pertukaran aset crypto ini selanjutnya akan diawasi oleh Bappebti.

Selain itu seiring makin tingginya minat pada Bitcoin, perdagangan mata uang crypto ini sekarang dilakukan bahkan hingga 24 Jam selama tujuh hari penuh atau setiap saat. Hal ini yang membedakan Bitcoin dengan emas yang baru bisa diperdagangkan ketika pasar dibuka. Salah satu bursa pertukaran crypto yang menyediakan layanan deposit dan withdrawal instan setiap hari adalah Pintu.

Mulai trading Bitcoin di Pintu sekarang 💰

Bitcoin vs Mata Uang Crypto Lain

Setelah penjabaran karakteristik Bitcoin yang memiliki kesamaan dengan emas, lalu apakah perbedaan Bitcoin dengan mata uang crypto lain? Apakah akan ada mata uang crypto lain yang mampu mengungguli Bitcoin yang sudah sejak awal kemunculannya menjadi raja mata uang crypto? Hal ini masih diperdebatkan hingga saat ini. Namun, faktanya hingga saat ini Bitcoin masih menguasai kapitalisasi pasar cryptocurrency.

Yang membuat Bitcoin berbeda dengan mata uang crypto lain, hal ini juga yang paling dirasakan oleh penggemar crypto, adalah efek jaringan dan keamanan yang sudah terbukti, serta keunggulan Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Berbeda dari mata uang crypto lain, bitcoin sebagai penyimpan nilai ini dibuktikan dari transaksi yang sudah ada sejak awal kemunculannya. 

Lebih lagi, Bitcoin merupakan pelopor dari realisasi konsep cryptocurrency ini yang sebenarnya sudah ada dari tahun 1994. Hal ini juga yang membuat Bitcoin dibandingkan aset crypto lain lebih memiliki likuiditas yang tinggi, lebih mudah diakses, lebih banyak platform yang menyediakan pertukaran untuknya, lebih banyak perdagangan, serta lebih banyak perangkat lunak maupun keras yang mendukung Bitcoin. 

Hard Fork dari Bitcoin sendiri seperti misalnya Bitcoin Cash, belum juga bisa menyingkarkan Bitcoin dari takhtanya sebagai mata uang crypto nomor satu. Fork sendiri merupakan sebuah peristiwa dalam jaringan blockchain Bitcoin, di mana nantinya akan ada fitur yang diubah di dalam sistem kode (programming system) koin tersebut.

Bitcoin Jadi Emas Digital?

Perjalanan Bitcoin menjadi aset yang digadang-gadang menjadi “emas digital” merupakan hal yang panjang. Hal ini ia buktikan dengan lebih dari 10 tahun keberadaannya mewarnai pasar aset dunia. Likuiditas dan aksesibilitas Bitcoin yang sudah terbukti juga merupakan sebuah pencapaian hebat atasnya. Banyak orang yang meragukan Bitcoin akan mampu menjadi pelindung nilai, tetapi fakta bahwa Bitcoin hingga saat ini masih relevan dan semakin diminati membuat Bitcoin nantinya tidak hanya akan menjadi “emas digital” tetapi juga alternatif baru dari sistem perekonomian dunia.