Coinvestasi Telegram Group Coinvestasi Telegaram Channel

Apa itu Ethereum? Panduan Dasar untuk Pemula!

Coinvestasi     Thursday, June 28 2018

Para penggemar teknologi apalagi mata uang crypto, pasti sudah tidak asing dengan konsep jaringan blockchain. Seperti mata uang crypto lainnya, Ether (ETH) juga merupakan mata uang crypto dengan basis jaringan teknologi blockchain yang disebut Ethereum. Namun, apa sebenarnya perbedaan dari Ether dan Ethereum itu?

Ethereum merupakan jaringan blockchain yang diciptakan secara khusus oleh penggagas utamanya, Vitalik Buterin. Ethereum ini bersifat open-source. Artinya, siapa saja bisa memakai konsep jaringan ini untuk membangun apapun, misalnya aplikasi terdesentralisasi ataupun token lainnya. Sedangkan, Ether (ETH) merupakan koin asli di dalam jaringan Ethereum. 

Ethereum juga memiliki beberapa istilah lainnya yang akan berkaitan dengan cara kerja jaringan ini seperti GAS jaringan. Baca selengkapnya di artikel Apa itu Gas dalam Blockchain Ethereum.

Jika dikaitkan lebih lanjut, jaringan ini seperti pemakaian jaringan internet sehari-hari. Dalam jaringan tersebut, kita akan menemukan seluruh data seperti nama, password atau kata sandi, informasi pribadi dan perusahaan, tetapi biasanya data-data ini hanya terpusat pada satu tempat besar yang dimiliki perusahaan-perusahaan tertentu seperti Google, Facebook, Amazon, dan lainnya. 

Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan tempat besar secara terpusat atau yang sering disebut Sentralisasi, dirasa tidak lagi “aman”. Hal ini mengingat perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kontrol penuh terhadap data-data yang ada. Hal ini pun rentan untuk disalahgunakan, terlebih jika kontrol jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Jaringan Ethereum yang didasari teknologi blockchain ini bekerja dengan konsep desentralisasi. Konsep ini membuat data-data tersebut tidak dimiliki oleh satu entitas, tetapi seluruh entitas di dalam jaringan dan membuat semua entitas memiliki kekuatan dan kendali yang sama. Singkatnya, pada jaringan ini semua orang memiliki kekuatan yang sama dan tidak terpaku hanya pada satu entitas.

Siapa Pencipta Ethereum

Setelah konsep dari jaringan Ethereum Blockchain dipahami, sekarang siapa sih orang dibalik layar jaringan ini? Orang ini adalah Vitalik Buterin, seorang programer dari Toronto yang tertarik sekali pada konsep jaringan Blockchain Bitcoin. 

Vitalik Buterin bersama temannya juga pernah mendirikan sebuah situs web berita online yang menulis berbagai artikel mengenai Bitcoin. Sebelum akhirnya memutuskan untuk belajar pemrograman Dark Wallet dan pasar. Dari sinilah, ia mendapatkan ide untuk membangun sebuah platform desentralisasi dan mempublikasikan white paper-nya pada tahun 2013. Sistem itulah yang disebut Ethereum.

Apa itu Ether (ETH) ?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, ETH merupakan koin asli pada jaringan Ethereum. Koin ini digunakan untuk sebagai biaya gas ketika menggunakan jaringan. Saat ini, ETH merupakan koin terbesar kedua di industri mata uang crypto berdasarkan kapitalisasi pasar. 

ETH bisa didapatkan dengan berbagai cara. Salah satu cara termudah adalah dengan membelinya di bursa pertukaran mata uang crypto. Di Indonesia sendiri, ETH masuk ke dalam komoditas, artinya koin ini secara legal dapat diperjual/belikan.  

Cari tahu lebih tentang bursa pertukaran crypto legal di Indonesia di sini.

Tidak hanya itu, ETH juga bisa didapatkan dengan cara ditambang. Setahunnya ada 18 juta ETH yang dapat di dalam jaringan.

Cara Kerja Ethereum Blockchain

Sebenarnya jaringan blockchain Ethereum ini punya konsep dasar yang sama dengan yang dimiliki Bitcoin. Perbedaannya hanya terletak pada Nodes atau simpul-simpul di jaringan Ethereum. Simpul-simpul ini menyimpan tidak hanya transaksi terkait dengan ETH, tetapi juga menyimpan status terbaru dari smart contract.

Nantinya setiap contract yang ada di jaringan tetap akan dilacak informasi paling baru dari semua aplikasi yang ada, misalnya saja saldo dari setiap pengguna, kode di dalamnya, tempat penyimpanan, dan lainnya. 

Seperti dana rekening bank, Ethereum memiliki akun untuk membuat sebuah transaksi. ETH disimpan pada dompet tertentu, dan dapat diangkut pada akun lain. Dana tersebut akan ada di tempat tertentu, tetapi tidak memiliki hubungan berkelanjutan.

Dalam jaringan ini, setiap transaksi dijalankan, seluruh (hingga berjumlah ribuan komputer) memproses transaksi itu. Contract ditulis dalam sebuah smart contract spesifik berbasis bahasa pemrograman yang dijalankan dengan ‘bytecode’. Bahasa pemrograman tersebut nantinya akan dibaca dan dieksekusi oleh EVM atau Ethereum Virtual Machine. Selanjutnya, simpul-simpul yang ada akan mengeksekusi contract yang ada menggunakan EVM mereka.

Hal ini membuat jaringan Ethereum tidak bisa (untuk saat ini paling sulit) dimanipulasi. Mengingat semua transaksi akan diingat dan salinannya akan disimpan dalam simpul jaringan. Lebih lagi, setiap simpul harus menyetujui aksi-aksi yang dijalankan di dalam jaringan. Tujuan utamanya adalah setiap aksi yang ada dapat dipertanggungjawabkan oleh entitas di dalam jaringan.

Smart Contract pada Ethereum

Konsep smart contract sebenarnya sudah ada sejak tahun 1993 silam. Konsep ini pertama kali diinisiasi oleh ilmuwan komputer dan kriptografi bernama Nick Szabo. Dalam penjelasannya mengenai hal ini, ia mendeskripsikan cara kerjanya seperti mesin digital penjual otomatis. Pengguna dapat memasukan data atau nilai ke dalamnya, dan sebagai balasan mendapatkan item yang terbatas darinya. 

Tidak seperti Bitcoin yang membatasi perubahan bahasa atau sistem di dalam jaringan Bitcoin, Ethereum justru membuka diri dan memberikan akses kepada para pengembang untuk membuat sendiri smart contract mereka atau yang disebut sebagai ‘Agen Otonom’ dengan tujuan mendukung serangkaian instruksi komputasi yang lebih luas.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Smart Contract bisa dibaca kembali di artikel Apa itu Smart Contract.

Kesimpulan

Jaringan Ethereum Blockchain memiliki konsep yang sama dengan jaringan blockchain Bitcoin, yang membuatnya berbeda, ia memiliki smart contract yang dapat dikembangkan oleh para pengembang lain. 

Ethereum juga memiliki koin asli jaringan bernama Ether (ETH) yang bisa dimiliki dengan membeli atau juga menambang. 

Jaringan ini juga memberikan tanggung jawab pada seluruh entitasnya dalam menjalankan dan menilai sebuah transaksi. Tujuannya dari Ethereum sendiri adalah memutuskan layanan pihak ketiga atau peretas dalam memperoleh akses yang tidak diinginkan pada data-data yang dimiliki seorang pengguna.

Baca juga: Apa Itu Ethereum 2.0 ? Pahami ETH 2.0 Dalam 3 Menit!

Poin Penting
  • Apa itu Ethereum?

    Ethereum adalah platform open source berbasis Blockchain yang terdistribusi untuk memperhitungkan fungsi dari smart contracts.

  • Apa itu Ether (ETH)?

    Ether adalah token asli Blockchain Ethereum, yang digunakan sebagai “bahan bakar” atau “gas” untuk menggerakan jaringan Etherum.

  • Siapa pencipta blockchain Ethereum?

    Penggagas pertama blockchain Ethereum adalah Vitalik Buterin

  • Cara Mendapatkan Ether?

    Beli di bursa pertukaran crypto atau ditambang.

  • Bagaimana smart contract di blockchain Ethereum?

    Smart contract di jaringan Ethereum bersifat open source. Sehingga, setiap pengembang dapat memanfaatkan smart contract ini untuk keperluan lainnya.

Artikel Terkait

 Lihat Lebih